Pelataran Masjid Nabawi, 21 Oktober 2023 lepas maghrib, aku yang sedang menunggu waktu isya dihampiri perempuan yang mungkin baru berusia 11 - 13 tahun dengan membawakan segelas air zam zam. Dengan senang hati kuterima, kukira dia hanyalah anak-anak yang memang ditugaskan untuk membagikan air, seperti yang dilakukan orang yang bersedekah kurma atau kopi. Setelah memberikan air dia pergi mengisi cangkir lainnya, sambil sesekali melirik ke arahku.
Kupanggil dia dengan bahasa isyarat tangan, sambil tersenyum dia menghampiri. Mulai kutanya namanya, darimana dia berasal, dan siapa yang menemani dia disana.
Namanya khadijah, dia berasal dari pakistan dan dengan ibunya berangkat ke madinah, ketika kutanya ibunya dimana dia hanya menunjuk ke arah dalam masjid nabawi, entah benar atau tidaknya. Dia bercerita bahwa dia memiliki 2 saudara laki laki dan 1 saudara perempuan yang tinggal di pakistan bersama ayahnya.
Mengingat cerita Ibuk dan ustad yang membimbing selama umroh, jamaah dari pakistan adalah salah satu dari sebagian jamaahnya yang kekurangan baik makan maupun tempat tinggal. Kuambil uang SAR 5 dan sebungkus wafer coklat yang baru saja kubeli tadi siang dan kuberikan padanya. Wajah Khadijah yang tadi hanya tersenyum tipis berubah bahagia. Melihat raut bahagianya ada rasa sedih karena mengingat aku juga memiliki adik seumuran khadijah yang hidupnya tidak akan mengerti dengan rasa lapar karena tidak ada yang bisa dimakan. Diselipkannya uang kedalam kerudungnya, Khadijah masih duduk disebelahku seperti menyimak bacaan quran yang kubaca. Adzan isya berkumandang, kuajak dia untuk melakukan sholat isya berjamaah disebelahku.
Selesai sholat aku melihat Khadijah kesulitan untuk membuka jam tangan putih yang dikenakannya, kubantu untuk memasangkan kembali karena kukira dia sedang mengencangkan jam tangannya. Dilepasnya kembali jam tersebut dan diberikannya kepadaku, jelas aku menolak, aku perlihatkan jam yang kupakai kebetulan modelnya sama dengan yang dia kenakan dengan maksud dia tidak perlu memberi jam itu kepadaku. Dia bersikeras memberikan jam putih yang ia gunakan, entah apa maksudnya karena keterbatasan bahasa kami satu sama lain.
Malam itu, entah takdir Tuhan dari jalur mana lagi pikirku yang mempertemukanku dengan seorang yang ketika bertemu aku merasakan ikatan yang kuat dengannya. Khadijah, yang aku yakin pasti nama yang diharapkan memiliki sifat dan perilaku Khadijah r.a. oleh orang tuanya. Tak ada permintaan lain selain semoga bahagia di kehidupan kedepannya. Semoga suatu saat kembali bertemu lagi dengan bahasa yang bisa kita saling mengerti.