Wednesday, October 25, 2023

Khadijah

Pelataran Masjid Nabawi, 21 Oktober 2023 lepas maghrib, aku yang sedang menunggu waktu isya dihampiri perempuan yang mungkin baru berusia 11 - 13 tahun dengan membawakan segelas air zam zam. Dengan senang hati kuterima, kukira dia hanyalah anak-anak yang memang ditugaskan untuk membagikan air, seperti yang dilakukan orang yang bersedekah kurma atau kopi. Setelah memberikan air dia pergi mengisi cangkir lainnya, sambil sesekali melirik ke arahku. 

Kupanggil dia dengan bahasa isyarat tangan, sambil tersenyum dia menghampiri. Mulai kutanya namanya, darimana dia berasal, dan siapa yang menemani dia disana. 

Namanya khadijah, dia berasal dari pakistan dan dengan ibunya berangkat ke madinah, ketika kutanya ibunya dimana dia hanya menunjuk ke arah dalam masjid nabawi, entah benar atau tidaknya. Dia bercerita bahwa dia memiliki 2 saudara laki laki dan 1 saudara perempuan yang tinggal di pakistan bersama ayahnya. 

Mengingat cerita Ibuk dan ustad yang membimbing selama umroh, jamaah dari pakistan adalah salah satu dari sebagian jamaahnya yang kekurangan baik makan maupun tempat tinggal. Kuambil uang SAR 5 dan sebungkus wafer coklat yang baru saja kubeli tadi siang dan kuberikan padanya. Wajah Khadijah yang tadi hanya tersenyum tipis berubah bahagia. Melihat raut bahagianya ada rasa sedih karena mengingat aku juga memiliki adik seumuran khadijah yang hidupnya tidak akan mengerti dengan rasa lapar karena tidak ada yang bisa dimakan. Diselipkannya uang kedalam kerudungnya, Khadijah masih duduk disebelahku seperti menyimak bacaan quran yang kubaca. Adzan isya berkumandang, kuajak dia untuk melakukan sholat isya berjamaah disebelahku. 

Selesai sholat aku melihat Khadijah kesulitan untuk membuka jam tangan putih yang dikenakannya, kubantu untuk memasangkan kembali karena kukira dia sedang mengencangkan jam tangannya. Dilepasnya kembali jam tersebut dan diberikannya kepadaku, jelas aku menolak, aku perlihatkan jam yang kupakai kebetulan modelnya sama dengan yang dia kenakan dengan maksud dia tidak perlu memberi jam itu kepadaku. Dia bersikeras memberikan jam putih yang ia gunakan, entah apa maksudnya karena keterbatasan bahasa kami satu sama lain. 

Malam itu, entah takdir Tuhan dari jalur mana lagi pikirku yang mempertemukanku dengan seorang yang ketika bertemu aku merasakan ikatan yang kuat dengannya. Khadijah, yang aku yakin pasti nama yang diharapkan memiliki sifat dan perilaku Khadijah r.a. oleh orang tuanya. Tak ada permintaan lain selain semoga bahagia di kehidupan kedepannya. Semoga suatu saat kembali bertemu lagi dengan bahasa yang bisa kita saling mengerti.

Monday, September 18, 2023

Lumut Balai, malam hari yang sudah mulai hujan

Ternyata benar ya, hakikatnya manusia itu hanya pandai menilai orang lain. Manusia sulit untuk menilai bagaimana dirinya sendiri. Perlakuan yang tidak adil diberikan dengan mudahnya untuk berucap, tapi ternyaya hal yang sama juga dilakukannya kepada manusia lain.

Manusia hakikatnya tumbuh secara visual, tapi belum tentu dengan pemikirannya. Keegoisan yang terkadang perlu tapi lebih sering digunakan bila dibandingkan dengan empati. Mengambil semua yang diinginkan dengan serakah, tapi tidak tahu apakah diperlukan atau tidak. Menyimpan apa yang semestinya dikeluarkan untuk sesuatu yang sebenarnya bisa menjadi berkah.

Friday, May 19, 2023

kepada kamu..

Kepada kamu siapapun yang masih mau membaca catatan saya disini..
Entah apapun tujuanmu membaca ini, sungguh catatan disini bukanlah sesuatu yang saya sangka bahwa ada orang lain yang membaca.
Bahkan setelah menulis catatan disini saya jarang sekali untuk membaca ulang..
Tapi sungguh, semoga sebagian kecil catatan saya yang sudah kalian baca memberikan sedikit manfaat untuk kehidupanmu walaupun saya rasa hampir tidak ada.

Malam ini saya takut sekali, bisa dikatakan tubuh saya sampai mengalami stress berat akibat ketakutan ini..
Banyak sekali ketakutan yang saya pikirkan sampai ke resiko terburuk yang akan terjadi pada diri saya.
Untuk itu, sekali lagi saya katakan apapun tujuan kamu yang membaca catatan saya ini, saya mohon ikhlaskan semua yang terjadi pada diri saya dan apapun yang telah saya perbuat selama ini. Walaupun saya sangat mengetahui beratnya untuk memberikan keikhlasan tersebut.

Dan terimakasih, siapapun kamu yang selalu membaca catatan ini. Saya harap saya dapat selalu menjadi teman, saudara, dan keluarga yang selalu membuat kamu bahagia..

Friday, April 7, 2023

PHASE 3

Desy yang sudah masuk ke dunia barunya mulai bingung dengan apa yang dia ingin kerjakan. Entah doa dari seorang ibu yang ingin anaknya mengembalikan badan sehatnya setelah selama kuliah sakit-sakitan membuat Desy baru mendapatkan pekerjaan setelah satu tahun Desy lulus kuliah. Desy yang memang dari semenjak lulus tidak ingin bekerja di kota tempat dia lahir dan dibesarkan akhirnya benar dapat bekerja di ibu kota. Walaupun jauh dari rumah dia tetap tinggal di rumah keluarga dekatnya, tentu saja tidak mudah baginya untuk hidup menumpang dengan orang lain. Apalagi dengan gaji yang didapatkan dibawah UMR daerah tersebut. Satu satunya hal yang menguatkannya saat itu adalah pacarnya pada saat itu. 

Walaupun dengan hubungan jarak jauh, Desy yang baru mulai dewasa sangat merasa dikuatkan. Setiap saat dihubungi walaupun hanya lewat teks, dan hampir setiap malam tersambung melalui video call. Sampai pada akhirnya semua harus berhenti di tahun ketiga. Semenjak saat itu Desy sulit menerima orang lain di dalam hidupnya. Tetapi, selalu ada teman-teman yang mau mendengarkan semua hal yang terjadi pada Desy yang baru dewasa ini. Desy tau kemana ia harus mencari dan bercerita, dan ini juga yang akan membuat ia menyesal di kemudian hari.

Selama 5 tahun berkarir, sudah 3 kali Desy berganti tempat kerja. Kenapa ? Karena hal yang dicari oleh Desy pada saat itu selain ilmu dan uang adalah kenyamanan. Desy akan langsung memberikan surat pengunduran diri bila ia merasa tidak nyaman ditempatnya bekerja. Karena di prinsip hidupnya adalah tidak akan ada pekerjaan yang berjalan dengan baik apabila ia tidak ikhlas mengerjakannya, untuk mendapatkan ikhlas itu adalah dari kenyamanan dan ketulusan ketika ia bekerja. Memang karirnya bukanlah seperti perempuan pada umumnya, banyak sekali nasihat yang ia dapat tentang pekerjaannya. Pekerjaannya yang menurut rekan kerjanya yang kebanyakan adalah laki-laki adalah bukan pekerjaan wanita sepertinya, wanita semestinya tidak bekerja di proyek yang panas dan penuh dengan mereka yang kasar, terlalu beresiko bekerja di tempat dimana sangat sedikit wanita disana, wanita yang semestinya diumurnya pada saat ini sudah semestinya menikah dan punya anak, sedangkan Desy yang baru dewasa ini bahkan tidak memiliki pacar. Bahkan di kantornya yang ke 3 Desy sering sekali dijodohkan mulai dari pria single, duda, bahkan yang sudah memiliki istri sekalipun. Dan Desy mulai merasakan trigger dari setiap omongan sekitarnya lalu kemudian memutuskan untuk mengambil keputusan yang sangat besar dalam dirinya terlebih lagi itu adalah kesalahan terbesar yang pernah dia ambil sekaligus pelajaran terbesar didalam hidupnya.

Mungkin cerita ini akan habis di phase ke 3 ini, karena Desy yang sekarang sedang berada di phase selanjutnya. Dan phase tersebut akan ditulis kembali ketika pada saat phase tersebut sudah berhasil di laluinya. 

Untuk siapapun yang membaca ini, terimakasih banyak (walaupun sebenarnya saya bingung apa yang membuat kamu yang membaca ini tertarik untuk masuk ke blog yang isinya hanyalah isi kepala yang sudah terlalu penuh). Entah apakah saya bisa menulis lagi atau tidak saya pun belum tau. 

Tuesday, March 7, 2023

8 Maret, Dini hari

Perasaan itu datang lagi.

Takut.
Entah kemana harus mengadu.
Mereka bilang ini salah satu sifat buruk yang kumiliki.
Tetapi ketika mengadu yang ada hanya penolakan.

Berkutat dengan perasaan ini sungguh membuatku lelah. 
Sungguh, aku hanya ingin berdamai dengan keadaan. 
Ketakutan yang mungkin dianggap orang lain berlebihan.
Karena memang tak sebanding dengan masalah yang orang lain hadapi.

Saturday, February 25, 2023

PHASE 2

Desy remaja tidak banyak berubah, masih sulit untuk bergaul. Teman sekolahnya di SMP adalah teman yang pernah satu kelas dengannya ketika SD. Baru bisa bergaul dengan kelompok yang lebih besar ketika akhir semesternya di SMP, itupun akibat banyaknya tugas kelompok sekolah yang harus dikerjakan ketika selesai jam sekolah.

Di SMA caranya bersosialisasi sudah mulai membaik, walaupun sempat menjadi korban bullying di sekolahnya. Karena apa? Klise, cinta monyet anak SMA. Desy yang lebih nyaman bermain Counter Strike daripada friendster, dan pergi ke mall untuk menonton film keluaran terbaru (kecuali memang film yang menurutnya bagus) membuatnya lebih mudah berteman dengan pria pada saat itu. Kepolosan sekaligus kebodohan Desy membuatnya dijadikan bahan untuk pasangan muda ini ribut, karena si perempuan cemburu terhadap cara kami berteman (yakinlah jika kalian mendengar cerita ini dari awal sampai akhir kalian akan membuang waktu kalian untuk hal yang tidak penting).

Di SMA juga Desy remaja mendapatkan cinta pertamanya dan patah hati paling besar yang dirasakan seumur hidupnya.
Cinta pertamanya adalah seorang mahasiswa salah satu universitas negeri terkemuka di bandung, mereka bisa saling kenal dari guru ekstra kulikuler musikalisasi puisi yang adalah seorang anak band, dan pria ini adalah salah satu vokalis di band tersebut. Bila di ingat lagi semuanya sangat indah bahkan sampai terbuatnya blog ini terinspirasi darinya pada saat itu, walaupun mereka tidak sempat berpacaran seperti mulusnya cerita romantis di novel teenlit yang sering dibaca oleh Desy remaja. Teman yang banyak, prestasi akademis dan non akademis yang baik, dan tentu saja kisah romantis yang baru pertama dirasakan membuat semua harinya sangat menyenangkan. Status di facebook hanya lirik lagu atau puisi romantis atau bahkan quotes dari novel yang Desy baca pada saat itu. Namun semuanya ternyata tidak semulus itu.

Ayah yang tiba-tiba pergi untuk selamanya ketika ulang tahunnya yang ke-16 tinggal 3 hari lagi menjadi patah hati terberatnya. Bagaimana tidak, ketika sedang semangat-semangatnya belajar agar bisa masuk fakultas kedokteran yang diinginkan ayahnya (karena sejujurnya Desy remaja tidak tertarik sama sekali untuk terjun ke dunia kesehatan), disaat teman sekelasnya baru akan memulai hal tersebut di kelas 12 dan desy harus memulainya dari sejak ditetapkannya ia masuk ke jurusan IPA. Bingung apa yang harus dilakukan untuk kedepannya karena separuh dari kebahidupannya telah pergi, berpikir percuma saja pergi sekolah jam 6 pagi dan baru sampai rumah jam 9 malam untuk belajar selama 5 hari dalam seminggu bila orang yang pertama kali bangga kepadanya sudah tidak ada lagi. Seperti ada yang kosong di bagian tubuhnya. Sangking kosongnya hari-hari setelah itu saya stuck menulis blog ini sekitar 2 jam untuk mengingat apa lagi yang telah terjadi setelah kejadian itu. 

Langsung saja ke kehidupan yang saya ingat setelah itu. Desy remaja akhirnya lulus SMA dan memilih untuk berkuliah di fakultas teknik sipil. Sangat jauh dari rencana yang ayahnya buat. Kenapa teknik sipil? Karena desy tidak diizinkan untuk memilih sekolah pariwisata untuk mewujudkan mimpinya menjadi pastry chef karena itu hanya ada di luar kota dan ibunya tidak akan pernah mengizinkan. Pada saat itu desy remaja sebenarnya ingin masuk ke teknik arsitektur karena sempat melihat ayahnya menggambar desain rumah untuk kakek neneknya di kampung, tetapi ia sadar bakat seni nya hanya sedikit dibidang musik dan sedikit tarik suara sisanya? Nol besar (bahkan keponakannya sekarang sering kecewa ketika meminta desy untuk menggambar karena tidak sebagus yang digambar oleh ibu mereka). 

Dan pada akhirnya setelah perjuangan keluar masuk rumah sakit akibat banyaknya aktifitas perkuliahan yang ada Desy dan teman-temannya bisa lulus dari dunia perkuliahan kurang dari 4 tahun.

Thursday, February 23, 2023

PHASE 1

Hidup di lingkungan yang sederhana, Desy kecil yang dipanggi Ria oleh keluarganya bukanlah anak yang ceria seperti namanya. Desy kecil (mungkin sampai sekarang) adalah anak yang cengeng, yang kalo nangis bisa seharian sampai dia merasa lelah atau ketiduran.

Sulit untuk bergaul dengan orang disekitarnya membuatnya lebih tertarik bermain sendirian dirumah ketika saudaranya yang lain bermain diluar rumah. Bukan di bully, tapi karena memang fisiknya yang lemah bila dibandingkan anak-anak pada zaman itu membuatnya merasa dibedakan karena setiap bermain dia akan selalu menjadi anak bawang.

Hidup sebagai anak tengah yang harus mengalah dengan adiknya (ketika Ibu membawa jajanan dari sekolah tempat Ibunya mengajar dan adiknya akan diberikan jatah yang lebih banyak), dan harus mengerti keinginan kakak kakaknya (ketika yang diinginkan Desy kecil tidak sama dengan mereka), membuatnya tidak banyak menuntut. Mungkin faktor inilah yang menyebabkannya menjadi spesial. Ketika menginginkan sesuatu Ayahnya akan dengan senang hati menuruti walaupun Desy kecil harus sabar menunggu.

Ketika Desy kecil ditanya kado yang diinginkan ketika berulang tahun jawabannya hanyalah komik monica dkk, ninja hatori, atau detective conan untuk melengkapi no seri yang masih belum lengkap. Atau alat tulis keren yang berbeda dari teman-temannya disekolah. Atau pensil warna dan crayon dengan pilihan warna yang banyak. Ketika pada saat itu anak seumurannya akan minta dibelikan PS 1, sepeda, atau scooter.

Desy kecil lebih senang memperkenalkan dirinya sebagai Desy, bukan Ria seperti di rumah, karena menurutnya Desy lebih mudah dilafalkan. Dan itu juga yang menyebabkan ketika teman sekolahnya menelpon ke rumah akan sering mendapatkan jawaban bahwa telpon salah sambung. Karena banyaknya orang di rumah dan tidak tau kalau Desy adalah nama depan si Ria.

Yup, terlalu banyak orang di dalam satu rumah. Entah dari mana silsilah keluarga ini yang jelas orang yang tinggal di rumah mungkin sekitar 15 orang (diluar 6  keluarga inti). Mungkin ini juga yang menyebabkan Desy tidak terlalu baik dalam pekerjaan rumah tangga, karena mereka yang tidak dipungut biaya tinggal di rumah mereka telah berbagi tugas beberes rumah.

Desy kecil sebagai anak rumahan lebih dekat dengan Ayah dibandingkan dengan Ibunya. Karena ibu bekerja sebagai guru yang jadwal mengajarnya tidak pernah sama dengan jam sekolah Desy. Sampai saudara-saudaranya sempat merasa iri, karena Desy adalah satu-satunya anak yang mendapatkan handphone baru dari Ayah, bukan dari bekas pakai Ayah atau Ibuknya. Desy yang ketika pulang les bahasa inggris akan dijemput dan diajak pergi ke mall hanya berdua dengan Ayahnya di saat kakak kakaknya harus pulang les naik angkot, dan adiknya tinggal di rumah. Walaupun tidak banyak bicara satu sama lain disepanjang perjalanan, tetapi Desy kecil sangat senang dengan moment pada saat itu. 

Desy kecil bukanlah anak yang pintar, hanya anak rata-rata pada umumnya. Tidak pernah mendapat ranking 5 besar. Tidak juga pintar dalam berkesenian dan olahraga. Jika sekarang kupikir lagi, Desy kecil bukanlah anak yang spesial. Hanya anak kecil pada umumnya. Wajar bila tidak ada hal yang bisa dibanggakan oleh orang tuanya ketika acara keluarga besar atau hari raya.