Hmm, bingung sekali.
Mengapa setelah sekian lama atas semua apa yang kau tulis, semua yang kau buat, semua yang kau katakan seolah-olah itu tertuju padaku?
Ah mungkin hanya perasaanku saja, perasaan yang tak seharusnya ada pada tempatnya.
Terima kasih kau selalu datang disaat aku merasa sendiri. Setidaknya bila aku merasa sepi ada kau yang menyanyikan rintikmu. Setidaknya ketika aku ingin menangis kau selalu mampu untuk menutupinya. Setidaknya ketika aku bahagia kau membawa doa dari setiap yang aku pinta. Setidaknya ketika aku ingin ditemani kau datang dengan senang hati. Terima kasih, terima kasih banyak. Sungguh ini adalah rasa terima kasih yang tulus dariku. Setidaknya aku bukanlah mereka yang hanya berucap menyukaimu tapi mereka bentangkan payung untuk menghindarimu, aku selalu menyukai ketika kau menyentuh wajahku, selalu menyukai ketika kau membasahi rerumputan dan pepohonan yang sudah lama tak berjumpa denganmu, dan selalu menyukai suara yang kau buat bagaikan musik tersendiri ditelingaku.
Terimakasih, karena selalu menemaniku disaat aku sendiri.
Apa yang kau harapkan dengan keadaan seperti ini? Kau ingin dia selalu ada untukmu? Kau ingin waktunya selalu untukmu?
Kalau itu yang kau inginkan bersiaplah untuk kecewa, karena di kehidupannya bukan hanya dirimu. Dia pasti jenuh dengan permintaanmu yang selalu menyita waktunya.
Mungkin perasaan itu hanya kau sendiri yang rasakan. Ketika kau mengatakan itu kepadanya, mungkin dia hanya terpaksa mengatakan iya juga merasakan hal yang sama karena tidak ingin membuatmu marah atau merasa tidak enak jika dia tidak menanggapimu. Beruntung dia tidak langsung menghilang dari hidupmu dan meninggalkanmu begitu saja karena merasa bosan denganmu.
Sudahlah, jangan terlalu banyak menuntut dan meminta banyak hal. Memang berat merasakan hal itu sendiri tanpa harus diungkapkan, tetapi yakinlah suatu saat akan ada orang yang memperlakukanmu seperti yang kau inginkan tanpa harus kau meminta.
Semakin kesini semakin hebat rasa khawatir itu. Mungkin dan semoga saja ini hanya perasaanku. Apakah rasa rindu ini hanya kurasakan sendiri. Mengapa kalian yang kuharap dapat selalu menjagaku dengan mudahnya pergi? Entah hanya untuk sementara atau selama-lamanya. Sedangkan aku disini sendiri terkurung di kota yang tidak menyenangkan ini.
Apakah kau tau aku sangat khawatir menunggu disini? Inilah salah satu faktor yang membuat aku lebih ingin sendiri, dimana yang aku pikirkan hanyalah diriku sendiri, tanpa sibuk memikirkan hal-hal yang belum pasti seperti ini.
Ingatlah, aku tak akan merengek untuk memintamu kembali saat kau dapat menjaga kepercayaan ini, saat kau berterus terang tentang keadaanmu dan apa yang kau pikirkan tentang aku. Bahkan ketika kau bosan dengan hubungan ini, aku berjanji aku akan tidak apa-apa disini.
Malam ini, aku menangis sesegukan di takbir ke dua shalat isyaku. Bukan karena perasaan bersalahku, bukan karena ingat almarhum ayahku, bukan pula karena permintaan untuk diriku kepada-Nya.
Disujud kedua, aku teringat mereka. Mereka yang selalu ada disaat aku butuhkan, mereka yang selalu ada disaat aku merasa bahagia, mereka yang tahu segala kisahku. Mereka yang tidak ada hubungan darah sama sekali denganku, tetapi lebih dari keluarga bagiku. Mereka yang tidak sungkan menegur ketika aku salah, dan tidak sungkan meminta maaf ketika aku merasa tidak suka dengan tingkah mereka.
Kami yang dulu selalu bersama, belajar, bermain, bahkan tidak melakukan apapun bersama. Sekarang semua berbeda, kami sudah memiliki kesibukan sendiri, walaupun sulit pada awalnya aku yakin akan banyak pengalaman yang akan kami ceritakan ketika kami berkumpul.
Seketika ingatan tentang mereka muncul, membuatku merasa aneh, di takbir berikutnya aku menangis sejadi-jadinya, tanpa alasan aku tidak mengerti apa yang aku tangisi. Di akhir sujudku bertambah jadi aku menangis. Semakin aku hendak duduk terakhir semakin lama aku ingin menangis.
Semoga mereka selalu sehat, selalu dalam lindungan-Nya. Semoga segala urusan mereka selalu lancar. Dan semoga mereka dapat menjaga diri mereka dimanapun mereka.