Ternyata, rasa sakit itu masih ada.
Ketika aku mengetahui hal yang dulu membuatku memiliki mimpi yang baru dan mulai menaburkan harapan.
Tapi, mimpi dan harapan itu hanya kubuat sendiri, tidak dengannya, pun dengan mereka.
Mereka sudah jauh menyusun dengan sangat rapih keadaan yang akan terjadi.
Kalau aku melihat kebelakang lagi, betapa sungguh banyak kerugian yang sudah aku dapatkan dari berharap yang ternyata hanyalah semu.
Mereka bilang tidak perlu aku pedulikan lagi, toh itu sudah menjadi masa lalu.
Ya, mereka benar.
Tapi rasa yang aku rasakan saat ini sungguh mereka mungkin belum pernah merasakannya.
Akupun berharap bisa berdamai ketika mengetahui kebenaran semuanya.
Tapi aku tidak atau mungkin belum bisa melakukannya.
Apakah harus mendapatkan yang baru agar aku dapat mengikhlaskan?
Kurasa bukan itu masalahnya, aku tidak mau menjadikan yang baru sebagai pelarian.
Aku mencoba.
Mencoba untuk menerima dan berdamai dengan keadaan.
Tetapi ketika aku mengetahui hal itu lagi, rasa sakit itu ikut tumbuh.
Sungguh, ikhlas hanya mudah untuk diucapkan tetapi sangat sulit untuk dilakukan.