Saturday, April 21, 2012

LILIN YANG TERBAKAR TAK PERNAH MEMBENCI API



Sudah beberapa bulan terakhir ini aku menyendiri. Tak satupun kegiatan kujalani dengan senang hati seperti sebelumnya. Menerima kenyataan bahwa hidupku divonis hanya tinggal dua tahun lagi membuatku menjadi lebih memikirkan banyak hal yang akan aku lakukan untuk sisa hidupku sekarang ini. Tak ada lagi yang bisa aku perbuat selain melakukan hal yang bisa membuat orang lain disekitarku bahagia. Berharap nanti aku pergi hanya meninggalkan kenangan baik untuk mereka yang aku tinggalkan.
Sebelum aku mengetahui semua ini, aku hanya seorang putra, kakak, dan teman yang periang bagi seluruh orang terdekatku. Aku disibukkan dengan kegiatan di dalam dan luar sekolah. Aku seorang vokalis di suatu band, seorang kapten dan ketua OSIS di tim basket dan sekolah. Semua mengenalku dengan baik, sebagai seorang yang ramah dan tentu saja sifat nakalku masih dalam taraf normal di kalangan mereka yang seumuran denganku.
Seperti remaja pada umumnya, aku memiliki banyak teman. Ya, walaupun banyak teman, didalam hidupku aku hanya memiliki satu sahabat sedari kecil. Tak ada yang aku rahasiakan dari Winda sahabat kecilku, walaupun dia perempuan dia tidak pernah menjauhiku karena perbedaan gender atau alasan lain bagi perempuan untuk menjauhkan dirinya dari para lawan jenis mereka. Tentu saja Winda tidak akan kuceritakan hal yang tidak ingin kudengar, karena aku hanya ingin memberikan dia kebahagiaan sekarang, bukan beban dari semua masalah yang aku miliki sekarang ini. Winda hampir sama sepertiku, ketika aku menjadi ketua tim basket pria, dia menjadi ketua tim basket wanita, ketika aku menjadi ketua OSIS dia menjadi wakil yang sangat membantuku. Tak jarang banyak sekali gosip yang ditujukan kepada kami berdua meskipun kami hanya berteman.
Winda selalu memberikan semangat dalam hidupku, aku tidak mengerti mengapa beberapa anak tidak menyukai caranya bergaul karena banyak temannya adalah laki-laki. Untunglah Winda selalu tidak menghiraukan perkataan yang ditujukan kepadanya. Pernah suatu ketika aku berpikir untuk menceritakan masalahku padanya, tapi semuanya urung kulakukan melihat keceriaan yang selalu dibawanya untukku.
 Aku juga kakak laki-laki bagi adik perempuanku, Tania, adik kecil yang sebenarnya umurnya tidak bisa dikategorikan anak kecil, Tania duduk di bangku SMP kelas dua. Kami sangat akrab, tak jarang kami saling menggoda satu sama lain dan itu membuat kami semakin akrab dirumah. Aku dan Tania sering sekali pergi keluar rumah hanya sekedar untuk berolahraga, walaupun dia perempuan, Tania merupakan salah satu atlet taekwondo wanita yang sering sekali menang kejuaraan. Itulah mengapa aku terkadang takut dia mengeluarkan jurus-jurus andalannya ketika aku sering sekali menjahilinya. Tentu saja Tania mengetahui masalahku, tetapi dia tidak pernah membahasnya, entah karena dia tidak peduli atau tidak ingin membuatku merasa lemah. Tania tahu betul aku sangat tidak ingin dianggap begitu lemah, apalagi dihadapan dia dan Ibuku. Tania tahu betul cara untuk memberiku kesenangan, pernah ketika aku sedang diam mengurung diri dikamar memikirkan semuanya tiba-tiba Tania masuk ke kamarku dan langsung mengajakku pergi keluar rumah. Kami bermain seharian dan ketika pulang Ibu telah menunggu kami berdua dan heran melihat kedua anaknya masuk rumah dengan wajah begitu ceria. Ibu mulai bertanya kami dari mana dan apa yang telah kami lakukan, dan kami menceritakan semuanya kepada Ibu. Ibu tersenyum dan dibalik senyumnya ada rasa khawatir terhadap anaknya, anak sulungnya, dan putra satu-satunya dikeluarga ini.
Setiap sebulan sekali aku terus menjalani terapi, walaupun dokter telah memberikan vonis, aku tetap berusaha untuk sembuh, berusaha untuk menjadi seperti biasa sebelum aku mengetahui semua keadaan ini. Jadwalku yang padat sudah aku kurangi, aku mengundurkan diri dari band dan tim basket sekolah. Winda terus bertanya mengapa aku melakukannya, tetapi aku tak menjawab. Hanya senyum yang aku sunggingkan, tak ada jawaban dari mulutku. Hingga Winda tak sabar lagi dengan sikapku hingga ia marah dan tidak lagi menegurku. Itu pertama kalinya Winda pergi meninggalkanku dan aku membiarkannya pergi begitu saja. Aku merasa ada yang aneh, ada yang berbeda ketika Winda tidak lagi peduli padaku. Pernah kucoba untuk tersenyum, tetapi Winda menghiraukannya bahkan dia tidak ingin melihatku. Mulai aku berpikir untuk memberi tahu Winda tentang semuanya, tetapi percuma, Winda tidak lagi peduli padaku.
Enam bulan telah berlalu, dan Winda masih saja menjauhiku, diam, bahkan acuh terhadapku. Tak ada lagi senyuman khasnya yang selalu ia berikan kepadaku. Hariku semakin sulit, sakit yang kurasakan semakin hebat dan aku tidak ingin merepotkan semua orang karenanya. Tak pernah aku merasakan sakit yang sesakit ini seumur hidupku. Pulang sekolah aku langsung mengambil obat yang tersimpan, tapi semuanya terlambat aku terjatuh dan semuanya gelap sekarang.
Aku terbangun, tempat ini mulai asing bagiku. Aku tidak ingat mengapa aku bisa disini, dan semua langsung menghampiriku. Kulihat Ayah langsung sibuk memanggil perawat yang sedang berjaga, Ibu menangis terharu melihatku yang sudah sadar, dan Tania langsung tersenyum disamping ranjang tempatku berbaring. Hey, ada satu lagi orang disini, seseorang yang sangat aku rindukan senyumnya, dia berdiri disamping Ibu yang sedang mengelus keningku. Winda ada disini, senyum khasnya langsung memberikan semangat lagi di dalam diriku.
Dokter masuk keruangan dan langsung memeriksa tubuhku, tersenyum, lalu keluar ruangan bersama ayahku. Winda masih disini, ini bukan mimpi, dia disampingku sekarang, Ayah dan Ibu pulang kerumah untuk mengambil pakaianku dan Tania keluar mencari makanan untuknya dan Winda. Ya, Winda menjagaku sekarang, dia meninju pelan bahuku dan mengatakan bahwa ia kecewa padaku. Ia hendak bertanya mengapa aku merahasiakan semuanya tapi sebelum dia menyelesaikan pertanyaannya langsung aku alihkan bertanya kabar dan bagaimana keadaan disekolah. Senyumnya tampak lagi ketika ia menceritakan bahwa tim basket wanita menang kejuaraan terakhir. Dan ia kembali kecewa ketika menceritakan kejadian yang dulu, kejadian satu tahun yang lalu. Ya, aku koma selama enam bulan, aku tidak menyadari semuanya, aku hanya berpikir aku pingsan beberapa jam saja, ternyata sudah banyak hal yang aku lewatkan.
Tania masuk dan membawa makanan yang langsung diberikannya kepada Winda. Mereka langsung bertukar posisi. Tania duduk ditempat yang Winda duduki barusan. Seperti biasa, Tania selalu mengajakku bercanda, dan dia langsung menceritakan bahwa semua keadaan baik-baik saja kecuali aku dan terus memeberikan semangat untukku. Aku tahu dia adik yang baik, dia berjanji ketika aku keluar dari rumah sakit ini dia akan menunjukkan padaku jurus taekwondonya yang baru saja ia ciptakan sendiri.
Seminggu kemudian aku sudah bersekolah seperti biasa, kali ini semua keadaan kembali normal dengan Winda yang sudah seperti biasa. Sebenarnya tidak lagi, ketika mengetahui aku sakit, Winda sangat menjagaku dengan ketat. Inilah salah satu alasan mengapa aku merahasiakan semua padanya. Dia selalu menanyakan bagaimana keadaanku beberapa menit sekali, hal yang membuat aku kesal sekaligus senang bahwa Winda masih mempedulikanku. Dan sebanyak apapun dia menghujaniku dengan pertanyaan yang sama aku selalu menenangkannya dan mengatakan bahwa aku baik-baik saja.
Seperti sebelumnya aku melakukan terapi, kali ini Winda menemaniku, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan selalu menemaniku ketika keluargaku tidak bisa menemani. Aku rasa kali ini Winda cukup membantu, senyuman yang ia berikan kepadaku selalu memberi semangat kepadaku. Aku mulai terbiasa menjalani semuanya, dan aku sadar bahwa dengan kesungguhanku aku pasti bisa melewati semua yang ada didalam diriku ini. Semakin hari keadaanku semakin membaik, dokter beranggapan ini kemajuan luar biasa. Kami sangat senang mendengar itu semua, bahkan Ibu sampai terharu mendengar ungkapan dokter yang menanganiku selama ini. Tetapi, vonis itu akan tetap berlaku bila aku tidak menjalani operasi yang dianjurkan dokter. Aku harus operasi ke Belanda, karena disana dokternya lebih berpengalaman melakukan operasi mengenai penyakitku ini. Dirumah kami berunding untuk melakukan ini semua, Ayah dan Ibu sangat setuju dengan keputusan dokter tadi, sekarang semuanya diserahkan padaku, apakah aku kuat untuk menjalani operasi disana untuk waktu paling tidak satu bulan lebih. Aku mengambil keputusanku bulat, aku sudah bertekad sembuh dari awal, kuputuskan pergi ke Belanda.
Di bandara, Ayah, Tania dan juga tentu saja Winda mengantarku dan Ibu, ya, Ibu akan menemani selama aku disana. Aku berpamitan kepada semuanya Winda memelukku erat sekali, berbisik bahwa aku harus berjanji pulang nanti membawa kabar bahagia, dan kami akan beraktifitas bersama lagi. Dia melepaskan pelukkannya, sadar bahwa aku harus segera masuk. Disini aku berjanji kepada semuanya aku akan kembali dan membawa kabar bahagia.
***
Aku disini bersama Tania dan Ayahnya, sudah satu bulan lebih dia meninggalkan kami. Dia juga telah berjanji pada kami akan segera pulang dan bersama lagi seperti dulu. Rasanya sudah lama sekali kami berdiri disini, padahal baru lima menit. Aku tidak sabar melihat mukanya sekarang, terakhir dia memberi tahu bahwa sekarang kepalanya botak akibat operasi tersebut. Lama aku terlamun dengan ingatan-ingatan tentang masa lalu kami yang begitu ceria, tak pelak aku terkejut melihat Tania dan Ayahnya berseru ketika melihat wajahnya. Aku menoleh kearahnya, dan melihat tak ada perubahan apapun darinya kecuali topi yang dipakainya sekarang untuk menutupi kepalanya. Dia terlihat seperti biasa, tersenyum dan datang menghampiri kami sambil memeluk Ibunya. Setelah dia menyalami Ayahnya dan mencium kening Adik perempuannya, langsung aku memeluknya dan berterima kasih karena ia telah menepati janjinya. Aku tahu dia pasti melakukannya dia tidak pernah ingkar janji sekalipun kepadaku. Dia mendekapku lama, entah rasanya tak ingin aku melepaskannya, sudah cukup bagiku untuk menunggu kedatangannya.
Sampai dirumahnya ia bercerita bahwa sungguh hebat peralatan kedokteran disana, amat sangat maju dibanding Indonesia. Aku tak mempedulikannya, yang terpenting bagiku sekarang adalah dia telah kembali lagi disini bersama kami semua.
Aku duduk dibangku dekat lapangan basket tempat kami biasa bermain, hari ini dia berjanji untuk melihatku latihan. Latihan sudah dimulai dan dia masih belum datang, aku pikir dia hanya terlambat. Tetapi setelah latihan berlangsung setengah jam dia masih belum datang, aku mulai berpikir dia lupa atau ada urusan mendadak, tapi dia bukan orang yang seperti itu. Aku mengetahui sifatnya, bukan dia kalau membatalkan janji, bukan dia kalau tidak memberitahu akan datang terlambat.
Waktu istirahat latihan, aku mengambil minum di dalam tasku, dan kulihat telepon genggamku yang berisi sepuluh panggilan tak terjawab dan satu pesan. Kulihat semuanya dari Tania, benar ada yang tidak beres. Kulihat pesan dari Tania yang mengatakan bahwa dia tiba-tiba terjatuh dan sekarang dilarikan kerumah sakit. Mendengar hal itu aku langsung pergi meninggalkan lapangan dan langsung menuju rumah sakit. Kulihat Tania sudah tertunduk lemas, Ibunya menangis dibahu Ayahnya. Aku mendekati Tania dan bertanya apa yang terjadi. Dia hanya bisa menangis, aku menenangkannya, aku tak bisa berkata apapun.
Dia telah pergi meninggalkanku sekarang. Aku baru mengetahui tentang vonis dokter yang dikatakan padanya setelah Tania bercerita. Dia tidak ingin membuatku khawatir, itu kata Ibunya kepadaku. Ternyata walaupun telah dioperasi penyakit itu masih bersarang ditubuhnya. Bahkan belakangan ini dia tidak pernah mengeluh sakit apapun, tiba-tiba saja dia terjatuh dan sampai saat ini tidak lagi sadarkan diri dan tidak akan pernah.
Kini aku kehilangan temanku, sahabatku, saudaraku, kakakku, dan orang yang aku sayangi. Dia lebih dari itu semua, aku menyayanginya walaupun ia telah membautku kesal. Tak bisa aku menahan senyum ketika melihat dia yang selalu tersenyum kepadaku. Aku tahu ini semua adalah kehendak Tuhan. Aku tahu ini semua adalah takdir, aku tidak bisa menyalahkan siapapun, dan membenci apapun. Bahkan lilin yang telah dibakar habis oleh api tak pernah membencinya. Rela dibakar demi memberikan cahaya untuk orang lain yang berada disekitarnya.

man jadda wa jadda