Sudah
beberapa bulan terakhir ini aku menyendiri. Tak satupun kegiatan kujalani
dengan senang hati seperti sebelumnya. Menerima kenyataan bahwa hidupku divonis
hanya tinggal dua tahun lagi membuatku menjadi lebih memikirkan banyak hal yang
akan aku lakukan untuk sisa hidupku sekarang ini. Tak ada lagi yang bisa aku
perbuat selain melakukan hal yang bisa membuat orang lain disekitarku bahagia.
Berharap nanti aku pergi hanya meninggalkan kenangan baik untuk mereka yang aku
tinggalkan.
Sebelum
aku mengetahui semua ini, aku hanya seorang putra, kakak, dan teman yang
periang bagi seluruh orang terdekatku. Aku disibukkan dengan kegiatan di dalam
dan luar sekolah. Aku seorang vokalis di suatu band, seorang kapten dan ketua
OSIS di tim basket dan sekolah. Semua mengenalku dengan baik, sebagai seorang
yang ramah dan tentu saja sifat nakalku masih dalam taraf normal di kalangan
mereka yang seumuran denganku.
Seperti
remaja pada umumnya, aku memiliki banyak teman. Ya, walaupun banyak teman,
didalam hidupku aku hanya memiliki satu sahabat sedari kecil. Tak ada yang aku
rahasiakan dari Winda sahabat kecilku, walaupun dia perempuan dia tidak pernah
menjauhiku karena perbedaan gender atau alasan lain bagi perempuan untuk menjauhkan
dirinya dari para lawan jenis mereka. Tentu saja Winda tidak akan kuceritakan
hal yang tidak ingin kudengar, karena aku hanya ingin memberikan dia
kebahagiaan sekarang, bukan beban dari semua masalah yang aku miliki sekarang
ini. Winda hampir sama sepertiku, ketika aku menjadi ketua tim basket pria, dia
menjadi ketua tim basket wanita, ketika aku menjadi ketua OSIS dia menjadi
wakil yang sangat membantuku. Tak jarang banyak sekali gosip yang ditujukan
kepada kami berdua meskipun kami hanya berteman.
Winda
selalu memberikan semangat dalam hidupku, aku tidak mengerti mengapa beberapa
anak tidak menyukai caranya bergaul karena banyak temannya adalah laki-laki.
Untunglah Winda selalu tidak menghiraukan perkataan yang ditujukan kepadanya.
Pernah suatu ketika aku berpikir untuk menceritakan masalahku padanya, tapi
semuanya urung kulakukan melihat keceriaan yang selalu dibawanya untukku.
Aku juga kakak laki-laki bagi adik
perempuanku, Tania, adik kecil yang sebenarnya umurnya tidak bisa dikategorikan
anak kecil, Tania duduk di bangku SMP kelas dua. Kami sangat akrab, tak jarang
kami saling menggoda satu sama lain dan itu membuat kami semakin akrab dirumah.
Aku dan Tania sering sekali pergi keluar rumah hanya sekedar untuk berolahraga,
walaupun dia perempuan, Tania merupakan salah satu atlet taekwondo wanita yang
sering sekali menang kejuaraan. Itulah mengapa aku terkadang takut dia
mengeluarkan jurus-jurus andalannya ketika aku sering sekali menjahilinya.
Tentu saja Tania mengetahui masalahku, tetapi dia tidak pernah membahasnya,
entah karena dia tidak peduli atau tidak ingin membuatku merasa lemah. Tania
tahu betul aku sangat tidak ingin dianggap begitu lemah, apalagi dihadapan dia
dan Ibuku. Tania tahu betul cara untuk memberiku kesenangan, pernah ketika aku sedang
diam mengurung diri dikamar memikirkan semuanya tiba-tiba Tania masuk ke
kamarku dan langsung mengajakku pergi keluar rumah. Kami bermain seharian dan
ketika pulang Ibu telah menunggu kami berdua dan heran melihat kedua anaknya
masuk rumah dengan wajah begitu ceria. Ibu mulai bertanya kami dari mana dan
apa yang telah kami lakukan, dan kami menceritakan semuanya kepada Ibu. Ibu
tersenyum dan dibalik senyumnya ada rasa khawatir terhadap anaknya, anak
sulungnya, dan putra satu-satunya dikeluarga ini.
Setiap
sebulan sekali aku terus menjalani terapi, walaupun dokter telah memberikan
vonis, aku tetap berusaha untuk sembuh, berusaha untuk menjadi seperti biasa
sebelum aku mengetahui semua keadaan ini. Jadwalku yang padat sudah aku
kurangi, aku mengundurkan diri dari band dan tim basket sekolah. Winda terus
bertanya mengapa aku melakukannya, tetapi aku tak menjawab. Hanya senyum yang
aku sunggingkan, tak ada jawaban dari mulutku. Hingga Winda tak sabar lagi
dengan sikapku hingga ia marah dan tidak lagi menegurku. Itu pertama kalinya
Winda pergi meninggalkanku dan aku membiarkannya pergi begitu saja. Aku merasa
ada yang aneh, ada yang berbeda ketika Winda tidak lagi peduli padaku. Pernah
kucoba untuk tersenyum, tetapi Winda menghiraukannya bahkan dia tidak ingin
melihatku. Mulai aku berpikir untuk memberi tahu Winda tentang semuanya, tetapi
percuma, Winda tidak lagi peduli padaku.
Enam
bulan telah berlalu, dan Winda masih saja menjauhiku, diam, bahkan acuh
terhadapku. Tak ada lagi senyuman khasnya yang selalu ia berikan kepadaku.
Hariku semakin sulit, sakit yang kurasakan semakin hebat dan aku tidak ingin
merepotkan semua orang karenanya. Tak pernah aku merasakan sakit yang sesakit
ini seumur hidupku. Pulang sekolah aku langsung mengambil obat yang tersimpan,
tapi semuanya terlambat aku terjatuh dan semuanya gelap sekarang.
Aku
terbangun, tempat ini mulai asing bagiku. Aku tidak ingat mengapa aku bisa
disini, dan semua langsung menghampiriku. Kulihat Ayah langsung sibuk memanggil
perawat yang sedang berjaga, Ibu menangis terharu melihatku yang sudah sadar,
dan Tania langsung tersenyum disamping ranjang tempatku berbaring. Hey, ada
satu lagi orang disini, seseorang yang sangat aku rindukan senyumnya, dia
berdiri disamping Ibu yang sedang mengelus keningku. Winda ada disini, senyum
khasnya langsung memberikan semangat lagi di dalam diriku.
Dokter
masuk keruangan dan langsung memeriksa tubuhku, tersenyum, lalu keluar ruangan
bersama ayahku. Winda masih disini, ini bukan mimpi, dia disampingku sekarang,
Ayah dan Ibu pulang kerumah untuk mengambil pakaianku dan Tania keluar mencari
makanan untuknya dan Winda. Ya, Winda menjagaku sekarang, dia meninju pelan
bahuku dan mengatakan bahwa ia kecewa padaku. Ia hendak bertanya mengapa aku
merahasiakan semuanya tapi sebelum dia menyelesaikan pertanyaannya langsung aku
alihkan bertanya kabar dan bagaimana keadaan disekolah. Senyumnya tampak lagi
ketika ia menceritakan bahwa tim basket wanita menang kejuaraan terakhir. Dan
ia kembali kecewa ketika menceritakan kejadian yang dulu, kejadian satu tahun
yang lalu. Ya, aku koma selama enam bulan, aku tidak menyadari semuanya, aku
hanya berpikir aku pingsan beberapa jam saja, ternyata sudah banyak hal yang
aku lewatkan.
Tania
masuk dan membawa makanan yang langsung diberikannya kepada Winda. Mereka
langsung bertukar posisi. Tania duduk ditempat yang Winda duduki barusan.
Seperti biasa, Tania selalu mengajakku bercanda, dan dia langsung menceritakan
bahwa semua keadaan baik-baik saja kecuali aku dan terus memeberikan semangat
untukku. Aku tahu dia adik yang baik, dia berjanji ketika aku keluar dari rumah
sakit ini dia akan menunjukkan padaku jurus taekwondonya yang baru saja ia
ciptakan sendiri.
Seminggu
kemudian aku sudah bersekolah seperti biasa, kali ini semua keadaan kembali
normal dengan Winda yang sudah seperti biasa. Sebenarnya tidak lagi, ketika
mengetahui aku sakit, Winda sangat menjagaku dengan ketat. Inilah salah satu
alasan mengapa aku merahasiakan semua padanya. Dia selalu menanyakan bagaimana
keadaanku beberapa menit sekali, hal yang membuat aku kesal sekaligus senang
bahwa Winda masih mempedulikanku. Dan sebanyak apapun dia menghujaniku dengan
pertanyaan yang sama aku selalu menenangkannya dan mengatakan bahwa aku
baik-baik saja.
Seperti
sebelumnya aku melakukan terapi, kali ini Winda menemaniku, dia sudah berjanji
pada dirinya sendiri akan selalu menemaniku ketika keluargaku tidak bisa
menemani. Aku rasa kali ini Winda cukup membantu, senyuman yang ia berikan
kepadaku selalu memberi semangat kepadaku. Aku mulai terbiasa menjalani
semuanya, dan aku sadar bahwa dengan kesungguhanku aku pasti bisa melewati
semua yang ada didalam diriku ini. Semakin hari keadaanku semakin membaik,
dokter beranggapan ini kemajuan luar biasa. Kami sangat senang mendengar itu
semua, bahkan Ibu sampai terharu mendengar ungkapan dokter yang menanganiku
selama ini. Tetapi, vonis itu akan tetap berlaku bila aku tidak menjalani
operasi yang dianjurkan dokter. Aku harus operasi ke Belanda, karena disana
dokternya lebih berpengalaman melakukan operasi mengenai penyakitku ini.
Dirumah kami berunding untuk melakukan ini semua, Ayah dan Ibu sangat setuju
dengan keputusan dokter tadi, sekarang semuanya diserahkan padaku, apakah aku
kuat untuk menjalani operasi disana untuk waktu paling tidak satu bulan lebih. Aku
mengambil keputusanku bulat, aku sudah bertekad sembuh dari awal, kuputuskan
pergi ke Belanda.
Di
bandara, Ayah, Tania dan juga tentu saja Winda mengantarku dan Ibu, ya, Ibu
akan menemani selama aku disana. Aku berpamitan kepada semuanya Winda memelukku
erat sekali, berbisik bahwa aku harus berjanji pulang nanti membawa kabar
bahagia, dan kami akan beraktifitas bersama lagi. Dia melepaskan pelukkannya,
sadar bahwa aku harus segera masuk. Disini aku berjanji kepada semuanya aku
akan kembali dan membawa kabar bahagia.
***
Aku
disini bersama Tania dan Ayahnya, sudah satu bulan lebih dia meninggalkan kami. Dia
juga telah berjanji pada kami akan segera pulang dan bersama lagi seperti dulu.
Rasanya sudah lama sekali kami berdiri disini, padahal baru lima menit. Aku
tidak sabar melihat mukanya sekarang, terakhir dia memberi tahu bahwa sekarang kepalanya botak akibat operasi
tersebut. Lama aku terlamun dengan ingatan-ingatan tentang masa lalu kami yang
begitu ceria, tak pelak aku terkejut melihat Tania dan Ayahnya berseru ketika
melihat wajahnya. Aku menoleh kearahnya, dan melihat tak ada perubahan apapun
darinya kecuali topi yang dipakainya sekarang untuk menutupi kepalanya. Dia terlihat seperti biasa, tersenyum
dan datang menghampiri kami sambil memeluk Ibunya. Setelah dia menyalami Ayahnya dan mencium kening Adik perempuannya,
langsung aku memeluknya dan berterima kasih karena ia telah menepati janjinya. Aku tahu dia pasti melakukannya dia
tidak pernah ingkar janji sekalipun kepadaku. Dia mendekapku lama, entah rasanya tak ingin aku melepaskannya,
sudah cukup bagiku untuk menunggu kedatangannya.
Sampai
dirumahnya ia bercerita bahwa sungguh
hebat peralatan kedokteran disana, amat sangat maju dibanding Indonesia. Aku
tak mempedulikannya, yang terpenting bagiku sekarang adalah dia telah kembali lagi disini bersama kami semua.
Aku
duduk dibangku dekat lapangan basket tempat kami biasa bermain, hari ini dia berjanji untuk melihatku latihan.
Latihan sudah dimulai dan dia masih
belum datang, aku pikir dia hanya
terlambat. Tetapi setelah latihan berlangsung setengah jam dia masih belum datang, aku mulai berpikir dia lupa atau ada urusan mendadak, tapi dia bukan orang yang seperti itu. Aku mengetahui sifatnya, bukan dia kalau membatalkan janji, bukan dia kalau tidak memberitahu akan datang
terlambat.
Waktu
istirahat latihan, aku mengambil minum di dalam tasku, dan kulihat telepon
genggamku yang berisi sepuluh panggilan tak terjawab dan satu pesan. Kulihat
semuanya dari Tania, benar ada yang tidak beres. Kulihat pesan dari Tania yang
mengatakan bahwa dia tiba-tiba
terjatuh dan sekarang dilarikan kerumah sakit. Mendengar hal itu aku langsung
pergi meninggalkan lapangan dan langsung menuju rumah sakit. Kulihat Tania
sudah tertunduk lemas, Ibunya menangis dibahu Ayahnya. Aku mendekati Tania dan
bertanya apa yang terjadi. Dia hanya bisa menangis, aku menenangkannya, aku tak
bisa berkata apapun.
Dia
telah pergi meninggalkanku sekarang. Aku baru mengetahui tentang vonis dokter
yang dikatakan padanya setelah Tania bercerita. Dia tidak ingin membuatku khawatir, itu kata Ibunya kepadaku.
Ternyata walaupun telah dioperasi penyakit itu masih bersarang ditubuhnya.
Bahkan belakangan ini dia tidak
pernah mengeluh sakit apapun, tiba-tiba saja dia terjatuh dan sampai saat ini tidak
lagi sadarkan diri dan tidak akan pernah.
Kini
aku kehilangan temanku, sahabatku, saudaraku, kakakku, dan orang yang aku
sayangi. Dia lebih dari itu semua,
aku menyayanginya walaupun ia telah membautku kesal. Tak bisa aku menahan
senyum ketika melihat dia yang selalu tersenyum kepadaku. Aku tahu ini semua
adalah kehendak Tuhan. Aku tahu ini semua adalah takdir, aku tidak bisa
menyalahkan siapapun, dan membenci apapun. Bahkan lilin yang telah dibakar
habis oleh api tak pernah membencinya. Rela dibakar demi memberikan cahaya
untuk orang lain yang berada disekitarnya.

