Di SMA caranya bersosialisasi sudah mulai membaik, walaupun sempat menjadi korban bullying di sekolahnya. Karena apa? Klise, cinta monyet anak SMA. Desy yang lebih nyaman bermain Counter Strike daripada friendster, dan pergi ke mall untuk menonton film keluaran terbaru (kecuali memang film yang menurutnya bagus) membuatnya lebih mudah berteman dengan pria pada saat itu. Kepolosan sekaligus kebodohan Desy membuatnya dijadikan bahan untuk pasangan muda ini ribut, karena si perempuan cemburu terhadap cara kami berteman (yakinlah jika kalian mendengar cerita ini dari awal sampai akhir kalian akan membuang waktu kalian untuk hal yang tidak penting).
Di SMA juga Desy remaja mendapatkan cinta pertamanya dan patah hati paling besar yang dirasakan seumur hidupnya.
Cinta pertamanya adalah seorang mahasiswa salah satu universitas negeri terkemuka di bandung, mereka bisa saling kenal dari guru ekstra kulikuler musikalisasi puisi yang adalah seorang anak band, dan pria ini adalah salah satu vokalis di band tersebut. Bila di ingat lagi semuanya sangat indah bahkan sampai terbuatnya blog ini terinspirasi darinya pada saat itu, walaupun mereka tidak sempat berpacaran seperti mulusnya cerita romantis di novel teenlit yang sering dibaca oleh Desy remaja. Teman yang banyak, prestasi akademis dan non akademis yang baik, dan tentu saja kisah romantis yang baru pertama dirasakan membuat semua harinya sangat menyenangkan. Status di facebook hanya lirik lagu atau puisi romantis atau bahkan quotes dari novel yang Desy baca pada saat itu. Namun semuanya ternyata tidak semulus itu.
Ayah yang tiba-tiba pergi untuk selamanya ketika ulang tahunnya yang ke-16 tinggal 3 hari lagi menjadi patah hati terberatnya. Bagaimana tidak, ketika sedang semangat-semangatnya belajar agar bisa masuk fakultas kedokteran yang diinginkan ayahnya (karena sejujurnya Desy remaja tidak tertarik sama sekali untuk terjun ke dunia kesehatan), disaat teman sekelasnya baru akan memulai hal tersebut di kelas 12 dan desy harus memulainya dari sejak ditetapkannya ia masuk ke jurusan IPA. Bingung apa yang harus dilakukan untuk kedepannya karena separuh dari kebahidupannya telah pergi, berpikir percuma saja pergi sekolah jam 6 pagi dan baru sampai rumah jam 9 malam untuk belajar selama 5 hari dalam seminggu bila orang yang pertama kali bangga kepadanya sudah tidak ada lagi. Seperti ada yang kosong di bagian tubuhnya. Sangking kosongnya hari-hari setelah itu saya stuck menulis blog ini sekitar 2 jam untuk mengingat apa lagi yang telah terjadi setelah kejadian itu.
Langsung saja ke kehidupan yang saya ingat setelah itu. Desy remaja akhirnya lulus SMA dan memilih untuk berkuliah di fakultas teknik sipil. Sangat jauh dari rencana yang ayahnya buat. Kenapa teknik sipil? Karena desy tidak diizinkan untuk memilih sekolah pariwisata untuk mewujudkan mimpinya menjadi pastry chef karena itu hanya ada di luar kota dan ibunya tidak akan pernah mengizinkan. Pada saat itu desy remaja sebenarnya ingin masuk ke teknik arsitektur karena sempat melihat ayahnya menggambar desain rumah untuk kakek neneknya di kampung, tetapi ia sadar bakat seni nya hanya sedikit dibidang musik dan sedikit tarik suara sisanya? Nol besar (bahkan keponakannya sekarang sering kecewa ketika meminta desy untuk menggambar karena tidak sebagus yang digambar oleh ibu mereka).
Dan pada akhirnya setelah perjuangan keluar masuk rumah sakit akibat banyaknya aktifitas perkuliahan yang ada Desy dan teman-temannya bisa lulus dari dunia perkuliahan kurang dari 4 tahun.
No comments:
Post a Comment