Saturday, February 25, 2023

PHASE 2

Desy remaja tidak banyak berubah, masih sulit untuk bergaul. Teman sekolahnya di SMP adalah teman yang pernah satu kelas dengannya ketika SD. Baru bisa bergaul dengan kelompok yang lebih besar ketika akhir semesternya di SMP, itupun akibat banyaknya tugas kelompok sekolah yang harus dikerjakan ketika selesai jam sekolah.

Di SMA caranya bersosialisasi sudah mulai membaik, walaupun sempat menjadi korban bullying di sekolahnya. Karena apa? Klise, cinta monyet anak SMA. Desy yang lebih nyaman bermain Counter Strike daripada friendster, dan pergi ke mall untuk menonton film keluaran terbaru (kecuali memang film yang menurutnya bagus) membuatnya lebih mudah berteman dengan pria pada saat itu. Kepolosan sekaligus kebodohan Desy membuatnya dijadikan bahan untuk pasangan muda ini ribut, karena si perempuan cemburu terhadap cara kami berteman (yakinlah jika kalian mendengar cerita ini dari awal sampai akhir kalian akan membuang waktu kalian untuk hal yang tidak penting).

Di SMA juga Desy remaja mendapatkan cinta pertamanya dan patah hati paling besar yang dirasakan seumur hidupnya.
Cinta pertamanya adalah seorang mahasiswa salah satu universitas negeri terkemuka di bandung, mereka bisa saling kenal dari guru ekstra kulikuler musikalisasi puisi yang adalah seorang anak band, dan pria ini adalah salah satu vokalis di band tersebut. Bila di ingat lagi semuanya sangat indah bahkan sampai terbuatnya blog ini terinspirasi darinya pada saat itu, walaupun mereka tidak sempat berpacaran seperti mulusnya cerita romantis di novel teenlit yang sering dibaca oleh Desy remaja. Teman yang banyak, prestasi akademis dan non akademis yang baik, dan tentu saja kisah romantis yang baru pertama dirasakan membuat semua harinya sangat menyenangkan. Status di facebook hanya lirik lagu atau puisi romantis atau bahkan quotes dari novel yang Desy baca pada saat itu. Namun semuanya ternyata tidak semulus itu.

Ayah yang tiba-tiba pergi untuk selamanya ketika ulang tahunnya yang ke-16 tinggal 3 hari lagi menjadi patah hati terberatnya. Bagaimana tidak, ketika sedang semangat-semangatnya belajar agar bisa masuk fakultas kedokteran yang diinginkan ayahnya (karena sejujurnya Desy remaja tidak tertarik sama sekali untuk terjun ke dunia kesehatan), disaat teman sekelasnya baru akan memulai hal tersebut di kelas 12 dan desy harus memulainya dari sejak ditetapkannya ia masuk ke jurusan IPA. Bingung apa yang harus dilakukan untuk kedepannya karena separuh dari kebahidupannya telah pergi, berpikir percuma saja pergi sekolah jam 6 pagi dan baru sampai rumah jam 9 malam untuk belajar selama 5 hari dalam seminggu bila orang yang pertama kali bangga kepadanya sudah tidak ada lagi. Seperti ada yang kosong di bagian tubuhnya. Sangking kosongnya hari-hari setelah itu saya stuck menulis blog ini sekitar 2 jam untuk mengingat apa lagi yang telah terjadi setelah kejadian itu. 

Langsung saja ke kehidupan yang saya ingat setelah itu. Desy remaja akhirnya lulus SMA dan memilih untuk berkuliah di fakultas teknik sipil. Sangat jauh dari rencana yang ayahnya buat. Kenapa teknik sipil? Karena desy tidak diizinkan untuk memilih sekolah pariwisata untuk mewujudkan mimpinya menjadi pastry chef karena itu hanya ada di luar kota dan ibunya tidak akan pernah mengizinkan. Pada saat itu desy remaja sebenarnya ingin masuk ke teknik arsitektur karena sempat melihat ayahnya menggambar desain rumah untuk kakek neneknya di kampung, tetapi ia sadar bakat seni nya hanya sedikit dibidang musik dan sedikit tarik suara sisanya? Nol besar (bahkan keponakannya sekarang sering kecewa ketika meminta desy untuk menggambar karena tidak sebagus yang digambar oleh ibu mereka). 

Dan pada akhirnya setelah perjuangan keluar masuk rumah sakit akibat banyaknya aktifitas perkuliahan yang ada Desy dan teman-temannya bisa lulus dari dunia perkuliahan kurang dari 4 tahun.

Thursday, February 23, 2023

PHASE 1

Hidup di lingkungan yang sederhana, Desy kecil yang dipanggi Ria oleh keluarganya bukanlah anak yang ceria seperti namanya. Desy kecil (mungkin sampai sekarang) adalah anak yang cengeng, yang kalo nangis bisa seharian sampai dia merasa lelah atau ketiduran.

Sulit untuk bergaul dengan orang disekitarnya membuatnya lebih tertarik bermain sendirian dirumah ketika saudaranya yang lain bermain diluar rumah. Bukan di bully, tapi karena memang fisiknya yang lemah bila dibandingkan anak-anak pada zaman itu membuatnya merasa dibedakan karena setiap bermain dia akan selalu menjadi anak bawang.

Hidup sebagai anak tengah yang harus mengalah dengan adiknya (ketika Ibu membawa jajanan dari sekolah tempat Ibunya mengajar dan adiknya akan diberikan jatah yang lebih banyak), dan harus mengerti keinginan kakak kakaknya (ketika yang diinginkan Desy kecil tidak sama dengan mereka), membuatnya tidak banyak menuntut. Mungkin faktor inilah yang menyebabkannya menjadi spesial. Ketika menginginkan sesuatu Ayahnya akan dengan senang hati menuruti walaupun Desy kecil harus sabar menunggu.

Ketika Desy kecil ditanya kado yang diinginkan ketika berulang tahun jawabannya hanyalah komik monica dkk, ninja hatori, atau detective conan untuk melengkapi no seri yang masih belum lengkap. Atau alat tulis keren yang berbeda dari teman-temannya disekolah. Atau pensil warna dan crayon dengan pilihan warna yang banyak. Ketika pada saat itu anak seumurannya akan minta dibelikan PS 1, sepeda, atau scooter.

Desy kecil lebih senang memperkenalkan dirinya sebagai Desy, bukan Ria seperti di rumah, karena menurutnya Desy lebih mudah dilafalkan. Dan itu juga yang menyebabkan ketika teman sekolahnya menelpon ke rumah akan sering mendapatkan jawaban bahwa telpon salah sambung. Karena banyaknya orang di rumah dan tidak tau kalau Desy adalah nama depan si Ria.

Yup, terlalu banyak orang di dalam satu rumah. Entah dari mana silsilah keluarga ini yang jelas orang yang tinggal di rumah mungkin sekitar 15 orang (diluar 6  keluarga inti). Mungkin ini juga yang menyebabkan Desy tidak terlalu baik dalam pekerjaan rumah tangga, karena mereka yang tidak dipungut biaya tinggal di rumah mereka telah berbagi tugas beberes rumah.

Desy kecil sebagai anak rumahan lebih dekat dengan Ayah dibandingkan dengan Ibunya. Karena ibu bekerja sebagai guru yang jadwal mengajarnya tidak pernah sama dengan jam sekolah Desy. Sampai saudara-saudaranya sempat merasa iri, karena Desy adalah satu-satunya anak yang mendapatkan handphone baru dari Ayah, bukan dari bekas pakai Ayah atau Ibuknya. Desy yang ketika pulang les bahasa inggris akan dijemput dan diajak pergi ke mall hanya berdua dengan Ayahnya di saat kakak kakaknya harus pulang les naik angkot, dan adiknya tinggal di rumah. Walaupun tidak banyak bicara satu sama lain disepanjang perjalanan, tetapi Desy kecil sangat senang dengan moment pada saat itu. 

Desy kecil bukanlah anak yang pintar, hanya anak rata-rata pada umumnya. Tidak pernah mendapat ranking 5 besar. Tidak juga pintar dalam berkesenian dan olahraga. Jika sekarang kupikir lagi, Desy kecil bukanlah anak yang spesial. Hanya anak kecil pada umumnya. Wajar bila tidak ada hal yang bisa dibanggakan oleh orang tuanya ketika acara keluarga besar atau hari raya.

Friday, December 23, 2022

Lewat Tengah Malam

Pernahkah kalian merasa memiliki hal yang sebenarnya dari awal bukan milik kita?
Kalian merasa bahwa itu adalah pemberian untukmu tetapi sebenarnya itu hanya singgah?
Singgah yang cukup lama, sampai kalian berpikir bahwa hal tersebut adalah milik kalian, sampai akhirnya menghilang.
Ketika menghilang mungkin di pikiran kita hal itu akan kembali lagi seperti biasa.
Sampai kita menyadari bahwa ada yang kurang dalam kehidupan kita, tak sama lagi seperti biasa.
Padahal kita sudah menganggap itu milik kita. 
Tapi ternyata bukan, ternyata kita tidak memiliki hak atas apapun disini.
Kesal memang, memikirkan kenapa harus hadir bila akhirnya harus pergi. 
Sedih? Tentu. 
Menurutmu mengapa semua tulisan ini ada bila tidak kurasakan hal tersebut?

Saturday, December 10, 2022

Karena Saya Pernah

Karena saya pernah merasa tidak didengarkan
Karena saya pernah merasa sudah berjuang yang terbaik tapi tidak dihargai
Karena saya pernah merasa memiliki terlalu banyak beban tanpa tau harus berbuat apa
Karena saya pernah merasa sendiri
Karena saya pernah ingin mengakhiri hidup saya agar tidak lagi memiliki masalah

Yang memberi saya kekuatan kembali untuk terus berjuang sampai saat ini adalah mereka yang terus ada disekitar saya sampai saat ini.
Yang membuat saya tau kalau saya berharga adalah mereka yang masih mau memberikan semangat dan dukungan tanpa rasa bosan.

Entah apa yang akan saya lakukan jika tidak ada mereka bersama saya. 

Sejak saat itu saya belajar bahwa hal kecil yang saya lakukan untuk orang lain mungkin akan sangat berdampak besar untuk kehidupan orang lain.

Dan sejak itu saya berjanji
Saya akan terus ada untuk orang lain sebagaimana orang tersebut selalu ada untuk saya.
Saya dengan senang hati mendengarkan semua keluh kesah orang lain walaupun itu jam 2 pagi dan saya harus tetap bekerja jam 7 pagi nya.
Saya akan meluangkan waktu saya walaupun sebentar untuk orang lain yang juga mau meluangkan waktu nya untuk saya.
Saya tidak akan pernah meninggalkan orang tersebut sampai orang tersebut meminta saya untuk meninggalkannya.