Kau tau betapa rindu ini tidak akan ada habisnya hanya untukmu.
Kuyakin suatu saat nanti kita akan dipertemukan lagi setidaknya dalam mimpi disaatku tertidur.
Betapa aku merindukan dulu, ketika kau menjemputku setiap pulang sekolah ditengah kesibukanmu.
Sengaja berpura-pura tertidur di mobil hanya agar kau gendong dan kau baringkan dikamar.
Sedikit merajuk agar kau mengajak aku pergi berdua ke tempat yang aku inginkan, dirangkul dan hanya untuk dibelikan makanan kesukaanku.
Mungkin hanya 17 tahun kurang 2 hari kau membimbingku, tapi aku mencoba di 7 tahun lebih kepergianmu ini selalu memberikan yang terbaik untuk dirimu dan ibuk.
Ayah, betapa banyak cerita yang ingin aku ceritakan kepadamu. Sungguh sering sekali aku mengkhayal tentang masukan yang akan kau berikan kepadaku agar aku dapat berpikir lebih dewasa. Jujur aku tidak siap menghadapi masalahku sendirian untuk kedepan ini.
Saturday, November 12, 2016
Selamat Hari Ayah
Saturday, October 8, 2016
Cerita di gerbong kereta
Hari itu aku pulang kerja lebih cepat dari biasanya, biasanya jam 17:30 lebih aku baru sampai di stasiun kereta, tapi dihari itu pas sekali jam 17:00. Lebih cepat setengah jam, itu hal yang sangat berharga untukku, setidaknya aku sampai dirumah masih ada matahari senja.
Tapi bukan itu inti cerita ini, sesampainya di stasiun aku langsung masuk ke peron pertama, jalur biasanya aku pulang kerja. Tanpa ada perasaan apapun, aku sabar menunggu sekitar 15 menit kereta datang. Akhirnya kereta datang, dan harapan gerbong tidak terlalu ramai hari ini, dan kalau beruntung aku bisa mendapatkan tempat duduk.
Dan harapanku musnah, gerbong penuh, walaupun tidak sesak. Aku masuk ke gerbong yang menurutku tidak terlalu penuh. Sekilas aku melihat sosok lelaki dengan umur sekitar 50an besar tinggi berdiri di sebelah kiri pintu kereta, aku tak peduli awalnya, aku masuk dan berdiri sambil menggenggam pegangan tangan yang telah disediakan. Tak sengaja aku menoleh kepada bapak tersebut, apakah ini mimpi? Aku seperti mengenali sosoknya, sosok yang selama 7 tahun ini pergi dari hidupku. Penasaran, aku lirik lagi bapak tersebut, benar, dia sangat mirip dengan sosok yang sangat aku kagumi. Tak berani aku melihat terlalu lama, takut kalau beliau menyadari aku memperhatikannya. Yang tidak mirip hanya bagian telinganya. Dari rambutnya yang putih penuh beruban, matanya, hidung, mulut, bentuk tubuh, sangatlah mirip. Kalau berdekatan aku akan mengatakan kepadanya bahwa dia sangat mirip sekali dengan ayahku. Cukup mengobati rasa rinduku selama tujuh tahun belakangan.
Aaaah rindu sekali, semoga bisa bertemu lagi di kereta yang sama dengan gerbong yang sama dan dengan keadaan kita bisa saling bertegur sapa.
Monday, September 26, 2016
Wednesday, September 21, 2016
Home sick?
Mungkinkah ini yang dikatakan orang rindu rumah? Yang teman temanku rasakan selama ini?
Rindu dengan suasana rumah yang tidak selalu damai, rindu dengan cerita ibuk tentang sinetron yang sedang ditonton, rindu pergi ke mall tanpa harus membayar bill sendiri, rindu rasa cemas setiap malam saat salah satu anggota keluarga belum dirumah, rindu kesendirian dikamar, rindu masakan ibuk, rindu ketika teman teman datang kerumah secara tiba tiba, rindu rindu rindu!