Hari itu aku pulang kerja lebih cepat dari biasanya, biasanya jam 17:30 lebih aku baru sampai di stasiun kereta, tapi dihari itu pas sekali jam 17:00. Lebih cepat setengah jam, itu hal yang sangat berharga untukku, setidaknya aku sampai dirumah masih ada matahari senja.
Tapi bukan itu inti cerita ini, sesampainya di stasiun aku langsung masuk ke peron pertama, jalur biasanya aku pulang kerja. Tanpa ada perasaan apapun, aku sabar menunggu sekitar 15 menit kereta datang. Akhirnya kereta datang, dan harapan gerbong tidak terlalu ramai hari ini, dan kalau beruntung aku bisa mendapatkan tempat duduk.
Dan harapanku musnah, gerbong penuh, walaupun tidak sesak. Aku masuk ke gerbong yang menurutku tidak terlalu penuh. Sekilas aku melihat sosok lelaki dengan umur sekitar 50an besar tinggi berdiri di sebelah kiri pintu kereta, aku tak peduli awalnya, aku masuk dan berdiri sambil menggenggam pegangan tangan yang telah disediakan. Tak sengaja aku menoleh kepada bapak tersebut, apakah ini mimpi? Aku seperti mengenali sosoknya, sosok yang selama 7 tahun ini pergi dari hidupku. Penasaran, aku lirik lagi bapak tersebut, benar, dia sangat mirip dengan sosok yang sangat aku kagumi. Tak berani aku melihat terlalu lama, takut kalau beliau menyadari aku memperhatikannya. Yang tidak mirip hanya bagian telinganya. Dari rambutnya yang putih penuh beruban, matanya, hidung, mulut, bentuk tubuh, sangatlah mirip. Kalau berdekatan aku akan mengatakan kepadanya bahwa dia sangat mirip sekali dengan ayahku. Cukup mengobati rasa rinduku selama tujuh tahun belakangan.
Aaaah rindu sekali, semoga bisa bertemu lagi di kereta yang sama dengan gerbong yang sama dan dengan keadaan kita bisa saling bertegur sapa.
No comments:
Post a Comment