Thursday, October 15, 2020

Kepada Teman Hidup

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Itu yang selalu dielukan oleh Pak Sapardi
Tapi aku tak ingin mencintaimu dengan sederhana
Aku tak ingin mencintaimu dengan sederhana 
Seperti kayu yang kata-katanya tak sempat diucapkan kepada api yang menjadikannya abu
Aku akan menjadi bara yang membuat api itu tumbuh menjadi lebih besar dan mendengarkan setiap kata-katanya
Aku tak ingin mencintaimu dengan sederhana
Seperti awan yang tak sempat menyampaikan isyaratnya kepada hujan yang menjadikannya tiada
Aku akan menjadi danau, sungai, bahkan lautan yang dapat memelukmu dan mengalir bersamamu dan menjadi tempatmu untuk kembali
Karena bagiku mencintaimu tidak akan pernah sederhana

-dsy-
Rantau Dedap, 16 oct 2020

Thursday, August 15, 2019

Merdeka

mungkin bagimu merdeka adalah tentang tidak adanya lagi peluru yang berterbangan di udara, atau tentang tak ada lagi bunyi rudal yang meledak di antara puing rumah.

mungkin bagimu merdeka adalah tentang berkibarnya bendera kebangsaan negeri ini dengan leluasa, tanpa ada yang tersulut amarahnya.

mungkin bagimu juga merdeka adalah tentang hilangnya bangsa asing yang datang untuk menjarah dan menjajah bangsa kita.

tapi tidak untukku.

bagiku kemerdekaan bukan hanya tentang tidak ada lagi peperangan dengan bangsa lain.

bukan lagi tentang mereka yang terbaring antara Karawang dan Bekasi.

melainkan merdeka adalah bebas untuk menyampaikan seluruh pendapat kita tanpa harus takut untuk diancam.

bagiku merdeka adalah setiap orang dapat mengemban ilmu yang sama sesuai dengan apa yang mereka inginkan.

bagiku merdeka adalah tak ada lagi pemaksaan pemikiran yang harus sama bagi semua orang.

karena perbedaan yang memerdekakan kita, dan membuat kita merasa merdeka.

Monday, August 12, 2019

Allah itu Maha Baik!

Allah itu Maha baik.
aku saja yang tidak bisa merasakan dan mensyukuri yang sudah Ia berikan.

Dulu, ketika kuliah ingin cepat lulus, benar saja Allah memudahkan segala urusan sampai diwisuda.
aku saja yang terlalu merasa hebat, membanggakan diri sendiri, berpikir semua karena usahaku sendiri tanpa bantuan siapapun.

Dulu, ketika mulai ingin bekerja karena teman yang lain sudah bekerja, Allah memberikan kemudahan mendapatkan pekerjaan tanpa harus mengikuti tes panjang seperti orang lain, dengan pekerjaan yang tidak menyia-nyiakan ilmu yang aku pelajari, persis seperti apa yang aku minta.
aku saja yang tidak bersyukur, menganggap penghasilan yang aku dapat tidaklah sesuai dengan apa yang aku kerjakan. Tanpa mensyukuri pengalaman, dan berbagai hal yang telah diberikan.

Dulu, ketika aku ingin menikah.. Allah memberiku 3 pilihan, mungkin untuk menguji seberapa kuat aku untuk istikharah kepada-Nya..
aku saja yang tidak peka atau bahkan tidak peduli dengan seluruh tanda yang telah diberikan dan terlalu egois untuk memaksakan kehendak sehingga Allah memperlihatkan semua kebenaran bahwa pilihanku adalah kesalahan terbesar dalam hidupku.

Sekarang, ketika aku ingin fokus terhadap karir dan melupakan masa lalu.. Allah memberikan pekerjaan yang dulu sempat aku mimpikan..
Apakah aku akan terus mengeluh? Apakah aku akan terus merasa kurang? Apakah aku akan terus merasa tidak nyaman?
atau,
Apakah aku akan belajar mensyukuri dan menikmati segala keadaan yang diberikan kepadaku saat ini?

Wednesday, June 12, 2019

Rantau Dedap, 13 Juni 2019

Ternyata, rasa sakit itu masih ada.
Ketika aku mengetahui hal yang dulu membuatku memiliki mimpi yang baru dan mulai menaburkan harapan.
Tapi, mimpi dan harapan itu hanya kubuat sendiri, tidak dengannya, pun dengan mereka.
Mereka sudah jauh menyusun dengan sangat rapih keadaan yang akan terjadi.
Kalau aku melihat kebelakang lagi, betapa sungguh banyak kerugian yang sudah aku dapatkan dari berharap yang ternyata hanyalah semu.

Mereka bilang tidak perlu aku pedulikan lagi, toh itu sudah menjadi masa lalu.
Ya, mereka benar. 
Tapi rasa yang aku rasakan saat ini sungguh mereka mungkin belum pernah merasakannya.
Akupun berharap bisa berdamai ketika mengetahui kebenaran semuanya.
Tapi aku tidak atau mungkin belum bisa melakukannya.

Apakah harus mendapatkan yang baru agar aku dapat mengikhlaskan?
Kurasa bukan itu masalahnya, aku tidak mau menjadikan yang baru sebagai pelarian.
Aku mencoba.
Mencoba untuk menerima dan berdamai dengan keadaan.
Tetapi ketika aku mengetahui hal itu lagi, rasa sakit itu ikut tumbuh.

Sungguh, ikhlas hanya mudah untuk diucapkan tetapi sangat sulit untuk dilakukan.