Friday, January 6, 2017

Jumat pertama di 2017

ketika semua kata menjadi biasa mungkin tak akan ada lagi sesuatu yang bermakna dalam hidup ini.
ketika peduli tak terlalu dianggap penting, maka siapa lagi yang akan menghargai satu sama lain?

entah apakah karena sudah terlalu sering sehingga menjadi terbiasa atau memang rasa itu sudah perlahan memudar dan semakin lama menghilang.
siapa yang harus disalahkan atas kejadian ini pun tak perlu untuk mencarinya. karena kesalahan terletak pada diri kita masing-masing.

Sunday, December 11, 2016

Minggu, 11 desember

Halo ayah, sudah lama nggak ngunjungin ayah sampe ayah datengnya ke mimpi.
Maaf ya ayah, sekarang ria jauh, nggak bisa sering sering ngunjungin ayah.
Ria sekarang kerja di jakarta yah, tinggal sama om aan sama tante tika. Akhirnya ria bisa kasih liat ke ibuk kalo ria kuat. Kalo ria bisa kok mandiri (walaupun belum terlalu mandiri). Ria janji nggak bakalan buat ibuk khawatir, cerita ke ibuk yang seneng seneng aja, yang bisa buat ibuk senyum pokoknya.
Ayah, sekarang ria ngerasa sendiri. Dulu kalo lagi jauh dari temen-temen pasti ada ibuk atau yuk dwi yang bisa diajakin cerita, curhat sampe malem. Kalo sekarang suka sungkan mau cerita sama tante atau cika. Mau telpon ibuk takut baper terus nangis, telpon yuk dwi pasti lagi sibuk terus. Sekarang dikit dikit mikirnya kapan bisa pulang ke palembang biar bisa ketemu sama ibuk, ngunjungin ayah lagi, bersihin makam ayah lagi.
Tanggal 23 malem ria pulang kok yah, mungkin tanggal 24 baru bisa ketemu ayah. Pulang kantor ria langsung ke bandara biar bisa cepet ketemu ibuk. Oh iya ayah, ria kerja di arkonin, perusahaan konsultan, semoga ayah bangga, dan ria janji bakal nerusin sekolah lagi. Kayak kata ayah dulu "anak itu pendidikannya harus diatas orang tuanya". Ria lagi berusaha kok yah, ria lagi cari info buat lanjut sekolah lagi.
Ayah.... Hmm apa lagi ya yah, sudah dulu aja kayaknya, kalo kelamaan bisa nangis lagi, kan ayah tau anak ayah yang ini paling cengeng, dan ria tau ayah nggak suka sama anak yang suka nangis.
Miss you dad, I'll see you soon..

Saturday, November 12, 2016

Selamat Hari Ayah

Kau tau betapa rindu ini tidak akan ada habisnya hanya untukmu.
Kuyakin suatu saat nanti kita akan dipertemukan lagi setidaknya dalam mimpi disaatku tertidur.
Betapa aku merindukan dulu, ketika kau menjemputku setiap pulang sekolah ditengah kesibukanmu.
Sengaja berpura-pura tertidur di mobil hanya agar kau gendong dan kau baringkan dikamar.
Sedikit merajuk agar kau mengajak aku pergi berdua ke tempat yang aku inginkan, dirangkul dan hanya untuk dibelikan makanan kesukaanku.
Mungkin hanya 17 tahun kurang 2 hari kau membimbingku, tapi aku mencoba di 7 tahun lebih kepergianmu ini selalu memberikan yang terbaik untuk dirimu dan ibuk.
Ayah, betapa banyak cerita yang ingin aku ceritakan kepadamu. Sungguh sering sekali aku mengkhayal tentang masukan yang akan kau berikan kepadaku agar aku dapat berpikir lebih dewasa. Jujur aku tidak siap menghadapi masalahku sendirian untuk kedepan ini.

Saturday, October 8, 2016

Cerita di gerbong kereta

Hari itu aku pulang kerja lebih cepat dari biasanya, biasanya jam 17:30 lebih aku baru sampai di stasiun kereta, tapi dihari itu pas sekali jam 17:00. Lebih cepat setengah jam, itu hal yang sangat berharga untukku, setidaknya aku sampai dirumah masih ada matahari senja.
Tapi bukan itu inti cerita ini, sesampainya di stasiun aku langsung masuk ke peron pertama, jalur biasanya aku pulang kerja. Tanpa ada perasaan apapun, aku sabar menunggu sekitar 15 menit kereta datang. Akhirnya kereta datang, dan harapan gerbong tidak terlalu ramai hari ini, dan kalau beruntung aku bisa mendapatkan tempat duduk.
Dan harapanku musnah, gerbong penuh, walaupun tidak sesak. Aku masuk ke gerbong yang menurutku tidak terlalu penuh. Sekilas aku melihat sosok lelaki dengan umur sekitar 50an besar tinggi berdiri di sebelah kiri pintu kereta, aku tak peduli awalnya, aku masuk dan berdiri sambil menggenggam pegangan tangan yang telah disediakan. Tak sengaja aku menoleh kepada bapak tersebut, apakah ini mimpi? Aku seperti mengenali sosoknya, sosok yang selama 7 tahun ini pergi dari hidupku. Penasaran, aku lirik lagi bapak tersebut, benar, dia sangat mirip dengan sosok yang sangat aku kagumi. Tak berani aku melihat terlalu lama, takut kalau beliau menyadari aku memperhatikannya. Yang tidak mirip hanya bagian telinganya. Dari rambutnya yang putih penuh beruban, matanya, hidung, mulut, bentuk tubuh, sangatlah mirip. Kalau berdekatan aku akan mengatakan kepadanya bahwa dia sangat mirip sekali dengan ayahku. Cukup mengobati rasa rinduku selama tujuh tahun belakangan.

Aaaah rindu sekali, semoga bisa bertemu lagi di kereta yang sama dengan gerbong yang sama dan dengan keadaan kita bisa saling bertegur sapa.