Baik Bukan Berarti yang Terbaik
Muhammad dika pramudya dinyatakan LULUS dalam ujian nasional tahun 2008. Ya itu namaku, aku sering dipanggil Dika oleh teman-temanku. Aku sekarang sudah lulus dari salah satu SMP negri di Bandung. Ini merupakan saat-saat yang menyenangkan sekaligus menyedihkan bagiku, karena SMA kelak aku akan pindah ke daerah yang lain di seberang pulau sana, Palembang.
Aku pindah dari Bandung ke Palembang karena Bapakku y
ang akan pindah tugas kesana. Suatu keputusan yang berat ketika aku harus memilih, tetap tinggal disini sendiri atau ikut ke Palembang bertemu dengan teman-teman baruku.
Sebenarnya bukan kali pertama aku tinggal disana, aku lahir di salah satu kota kecil di Palembang, sampai kelas 4 SD aku tinggal disana. Tidak menutup kemungkinan bahwa aku akan bertemu dengan sahabat-sahabat kecilku dulu.
Dan yang membuat ku berat untuk meninggalkan Bandung adalah aku harus meninggalkan teman-temanku, terutama sahabat dekatku, Risa. Ia bukan hanya sahabat bagiku, ya dia tempat yang khusus dihatiku. Walaupun demikian, aku tidak pernah mengungkapkan hal itu bukan hanya karena takut dia akan menolakku, tetapi juga karena telah banyak cerita yang aku dengar darinya bahwa dia telah menyukai kakak kelas kami.
Sudah sekitar dua bulan lebih aku disuruh memikirkan keputusanku untuk tinggal atau ikut ke Palembang. Dan dengan begitu banyak keputusan dan pertimbangan aku memilih untuk ikut ke Palembang.
Banyak hal yang aku putuskan, mulai dari permohonan Risa yang menyuruhku tinggal di sini, sa
mpai keputusan orangtuaku yang takut membuatku menjadi anak yang durhaka. Disini aku mulai berpikir dewasa, aku harus memilih yang mana yang lebih baik untukku.
Suatu pagi, aku harus berangkat ke Palembang bersama keluarga besarku. Bapakku telah berbicara padaku bahwa esok aku harus mengikuti tes untuk masuk SMA yang cukup terkenal di Palembang.
Aku yang sudah dianggap Bapakku dapat dibanggakan di bidang matematika dan IPA sangat berharap lebih dariku. Aku takut akan mengecewakan beliau, karena beliau telah berharap lebih dariku. Beberapa kali selama perjalanan dari Bandung ke Palembang beliau selalu membanggakan sekolah yang akan aku masuki nanti. Bertambah lagi beban yang ada dipikiranku, bagaimana jika nanti aku tidak masuk ke sana ? bagaimana jika nanti aku akan mengecewakannya ? apakah ia masih akan bangga terhadapku ?
Hanya itu yang ada dipikiranku selama perjalanan yang panjang itu. Kepalaku pusing memikirkan hal itu. Kupejamkan mata agar perjalanan ini berlalu dengan cepat. Tetapi, masih saja tidak dapat dipejamkan. Lebih parah lagi kepalaku terlalu pusing untuk tidur dan memikirkan hal itu.
Sangat panjang perjalanan yang aku tempuh, tidak terasa akan segera sampai di rumah baru kami. Lumayan luas dibanding rumah kami yang dulu, dan aku harap bisa mendapat teman yang baik seperti di Bandung. Sepanjang sore kami habiskan untuk berbenah rumah yang sangat berdebu itu. Terutama kamarku, kamarku yang dulunya hanya berisi kasur dan meja kecil untuk tempat buku-buku ku, sekarang telah berisi komputer dan ranjang yang empuk.
Bapakku tidak mengizinkan aku membantu membereskan rumah itu, ia menyuruhku tetap dikamar dan belajar untuk menghadapi ujian besok. Selain aku yang memang telah capek diperjalanan tadi, aku memang belum belajar sedikitpun untuk ujianku besok. Kuputuskan untuk belajar dan tidur lebih cepat malam ini. Agar aku bisa lebih tenang besok pagi.
Esoknya aku pergi menuju sekolah yang Bapakku berharap menjadi sekolahku kelak. Aku berusaha menjawab semua soal yang aku bisa. Dan semua keberuntunganku hari itu aku harap berpihak kepadaku. Soal yang sekarang aku kerjakan sangat sulit, lebih dari yang aku banyangkan. Ditengah waktu pengerjaan soal, sempat aku melihat kepada pengawas yang mendekati peserta ujian yang lain yang berada tepat dise
belahku. Aku melihat pengawas tersebut memberikan sepotong kertas kecil. Entah apa maksud dari kertas kecil tersebut. Aku tetap berkonsentrasi kepada soal-soal yang bisa membuat seseorang terkena botak permanen.
Sampai akhirnya waktu pengerjaan soal pun tinggal lima menit lagi. Aku berusaha menenangkan diriku yang saat ini bercucuran keringat dingin. Selain gugup, keringat ini mungkin muncul karena aku yang kurang sehat pagi ini.
Dan waktu pengerjaan soal pun berakhir. Aku tak ingin berlama-lama disana, karena sudah banyak keringat dingin yang aku keluarkan. Segera aku pulang dan berdiam dikamar sambil membuka komputer dan memulai chatting dengan Risa. Kuceritakan semuanya yang aku alami hari ini. Dia tetap memberiku semangat, agar aku tetap pantang menyerah seperti aku yang biasanya.
Beberapa hari aku menganggur dirumah, selain aku menunggu pengumuman penerimaan siswa baru tersebut, aku juga tidak tahu akan kemana dan bersama siapa aku akan pergi. Hari-hariku dihabiskan dengan chatting dan browsing di internet.
Hari yang ditunggu Bapakku telah datang. Tak dapat kulupakan raut wajahnya ketika ia melihat daftar nama siswa yang diterima di SMA tersebut. Sampai pada garis yang telah ditentukan yakni nomor peserta ke 280, tetapi namaku tetap tidak ada. Aku melihat nama ku berada di nomor 286, yang berarti aku tidak lulus di sekolah tersebut.
Bapakku sangat marah kepadaku, semua ketakutanku hari itu kini menjadi kenyataan. Semua kata-kata yang tidak pernah kudengar dari mulut Bapakku hari itu telah masuk ke dalam hati dan pikiranku.
Aku bingung harus memilih sekolah swasta mana yang terbaik disini. Selain aku memang baru disini, aku juga tidak mempunyai teman tempat aku harus bertanya kemana sekolah swasta bagus yang masih membuka ujian saringan masuk. Kuputuskan untuk mencari lewat internet, dan aku beruntung menemukan salah satu swasta yang masih membuka pendaftaran.
Bapakku tidak bicara kepadaku selama 3 hari lebih, aku bosan dengan keadaan itu. aku takut akan menjadi anak durhaka kepada orangtua ku. Makan malam hari itu sangat sepi, tak ada lagi yang bebicara ten
tang maslah apapun.
Aku mulai membuka pembicaraan “Pak, aku ingin tahu dimana sekolah swasta yang bagus di sekitar sini? Kalau Bapak tidak keberatan aku sudah memilih dimana nanti aku akanmelanjutkan sekolahku, kebetulan besok merupakan ujian saringan masuk gelombang terakhir” ujarku kepada Bapakku.
“Urus saja sekolahmu sendiri! Sudah susah-susah aku memilihkanmu sekolah yang terbaik disini, tetapi kau tidak bisa membuatku bangga sedikitpun!” ketusnya. Ia langsung menuju kamar dengan sedikit hentakan pintu kamar yang terdengar.
Semalaman aku memikirkan kata-kata yang diucapkan Bapakku tadi, aku kesal sekaligus marah terhadap beliau. Tapi tidak ada yang bisa aku lakukan selain diam dan berdoa. Sekarang aku hanya belajar agar dapat lebih baik dari kemarin.
Esoknya aku mengikuti ujian saringan masuk tersebut, tentunya aku sendiri tidak seperti calon peserta lain yang ditemani oleh orangtua atau bersama teman-teman mereka.
Waktu tes pun dimulai, soal kali ini lebih mudah dibandingkan dengan soal yang kemarin aku kerjakan. Walaupun demikian, aku tetap gugup dalam mengerjakan soal-soal tersebut. Setelah waktu habis, beberapa jam kemudian hasil tes telah keluar, aku mendapat peringkat tertinggi disini. Dan ternyata besok aka nada tes wawancara bersama wali siswa. Aku bingung harus bicara apa kepada Bapakku.
Sampai di rumah, aku mencoba berkata yang sebenarnya kepada Bapakku. “Pak, tadi
aku sudah menyelesaikan tes itu dengan sempurna, dan aku mendapatkan nilai tertinggi. Besok juga akan diadakan tes wawancara kepada seluruh peserta dan wali siswa.” Kubicarakan semuanya dengan tenang, tapi beliau hanya berkata “aku tidak mau tahu lagi tentang hal itu” hanya itu yang ia katakan. Aku terdiam, sudah habis kesabaranku, kubiarkan saja ia pergi entah kemana. Aku telah putus asa, aku frustasi dengan semua keadaan ini.
Aku masuk ke kamarku dengan membawa koran dan korek api. Aku tahu ini tidak baik untukku, tapi aku sudah terlanjur sakit hati dengan Bapakku. Kunyalakan korek api itu dan membakarnya di kamar setelah aku menutup rapat pintu dan jendela kamarku. Kubiarkan api terus membesar sampai aku merasa sangat sesak.
Tak lama, kudengar sirine pemadam kebakaran sangat kencang ditelingaku. Kulihat seorang petugas menghampiriku dan mengangkatku keluar. Ribut sekali malam itu, aku mendengar teriakan dari seorang lelaki dewasa, yang sudah sering aku mendengarnya. Aku melihat Bapakku memelukku erat, aku hanya

menangis melihat kejadian tersebut. Aku melihat tubuhku sendiri yang telah kaku akibat terlalu banyak menghirup gas beracun dari asap kebakaran tersebut.
Bapakku sekarang tidak perlu memikirkan aku yang akan membuatnya malu sekarang. Tidak perlu mengurusi urusan sekolahku lagi dan tidak ada yang akan membuatnya pusing lagi. Pasti ia akan bahagia ketika aku tiada seperti sekarang ini.
*cerita ini sebenernya pengalaman pribadi temenku. waktu itu dia pernah cerita dan terinspirasi lah membuat cerpen ini. maaf ya kalo kepanjangan.. hhe ^^v

