Tuesday, November 25, 2014

Hi

Entah mengapa bayang-bayang itu masih ada, mungkinkah hati ini masih berharap penuh padanya? Ah, entahlah aku tidak ingin terlalu terikat dengan masa lalu. Terutama masa lalu yang tidak jelas berlalunya.

Mungkin sudah hampir lima tahun kami tidak saling bertegur sapa atau hanya melakukan percakapan basa basi seperti orang lain pada umumnya. Karena dia yang terlalu sibuk, atau aku yang terlalu sibuk, atau mungkin kesalahan yang telah aku buat. Ya, janji yang sudah kami buat aku hancurkan, siapa pula yang menyangka janji yang sudah setahun terucap dan tak pernah terbahas itu masih dianggap sampai pada akhirnya aku menemukan pengganti dirinya. Apakah mungkin suatu hubungan yang masih mengambang keberadaanya menang melawan perbuatan baik dan memberikan kenyamanan? Tetapi sejak saat aku memutuskan untuk memilih kami tidak lagi bertegur sapa satu sama lain.

Setelah lima tahun kau meninggalkan, mengacuhkan tanpa sepatah katapun, tiba-tiba saja kau datang. Menyapa seperti tidak pernah terjadi apapun sebelumnya. Mengajak bertemu, membicarakan hal-hal yang akhir-akhir ini kau lakukan, tanpa peduli perasaanku. Bagaimana kabarku sekarang, masih ingatkah diriku akan dirimu yang selama ini menghilang, atau bahkan setidaknya kau marah kepadaku atas apa yang telah kulakukan kepadamu.

Tidak, aku tidak ingin merasakan hal itu terjadi untuk kesekian kalinya. Ditinggalkan dan dilupakan sampai pada akhirnya aku hanya berdiri sendiri disini. Tapi kau datang disaat yang sangat tepat. Datang diwaktu aku membutuhkan seseorang untuk diajak bercerita, mendengarkan keluh kesah bahkan amarah yang aku rasakan. Kau datang disaat aku merasa penat dengan kehidupanku yang sekarang, penat dengan semua tugas, semua tuntutan yang harus aku selesaikan.

Ternyata kau masih seperti dulu, entah mengapa kau selalu datang disaat tidak ada lagi seorangpun yang dapat aku andalkan, setidaknya kau mampu menenangkan hati ini yang sudah lama terguncang. Meyakinkan diri ini bahwa ada seseorang yang masih ingin meminta untuk dibagikan beban keluh kesah meskipun dirinya sendiri masih memiliki masalahnya sendiri. Mungkinkah ini saat dimana perjanjian kita akan kita realisasikan ke dunia yang lebih nyata? Tanpa harus takut akan jarak yang akan memisahkan kita? Sampai pada saatnya hanya Tuhan yang mampu menjawab dan memisahkan kita.

Saturday, November 16, 2013

angin aku ingin

angin aku ingin menyampaikan kesahku
pada dahan yang kau hembuskan daunnya

angin aku ingin menyanyikan laguku
pada burung yang kau bantu terbangnya

angin aku ingin menceritakan anganku
pada malam yang kau ramaikan heningnya

angin aku ingin menarikan langkahku
pada tanah yang kau tiupkan debunya

angin aku ingin memberikan doaku
pada Tuhan yang dari-Nya lah kau diciptakan

Thursday, September 5, 2013

Mencinta yang sebenarnya cinta

Maaf sudah sangat sering melupakan-Mu untuk hal-hal duniawi yang tidak seberapa pentingnya dibandingkan dengan bertemu dan mengucap syukur pada-Mu. Bahkan ketika aku telah mendengar panggilan dari-Mu dengan jelas aku tetap mengacuhkan Kau tanpa merasa bersalah sedikitpun. Aku mohon ampunkan aku karena tidak menyadari betapa Kau sungguh mencintaiku sepenuhnya tanpa ada celah sedikitpun walau aku telah melakukan banyak sekali dosa dan perbuatan yang hina. Merasa tidak seorangpun yang melihat padal Engkau selalu berada didekatku, selalu melihat segala yang aku lakukan dengan jelas tanpa sedikitpun Kau lewatkan. Aku telah mencintai sesuatu lebih dari aku mencintai-Mu, aaah padahal perasaan itu langsung Kau berikan kepadaku tanpa aku meminta. Yaa Allah biarkan cinta ini hadir hanya untuk diri-Mu tanpa harus kubagi kepada mereka yang tidak berhak mendapatkan cinta yang sesungguhnya ini. Biarkan aku memberikan cintaku yang sesungguhnya sepenuhnya hanya untuk-Mu. Karena sekarang telah kusadari sepenuhnya bahwa mencinta yang sebenarnya cinta adalah cinta kepada-Mu bukan kepada mereka yang tidak memiliki hak sedikitpun untuk mendapat cinta didunia ini..

Monday, September 2, 2013

Ayah andai ayah sekarang disini entah bagaimana kau menyikapi atas apa yang aku lakukan.

Apakah bangga atas apa yang telah aku lakukan.
Apakah kecewa atas apa yang tidak aku lakukan.
Apakah bahagia atas apa yang aku lakukan.
Apakah sedih atas apa yang tidak aku lakukan.
Apakah senang atas apa yang aku lakukan.
Apakah marah atas apa yang tidak aku lakukan.
Apakah peduli atas apa yang aku lakukan.
Apakah acuh atas apa yang tidak aku lakukan.

Ayah bagaimanapun ayah menyikapi apa yang telah/tidak aku perbuat, ayah tetap menjadi panutan atas apa yang aku perbuat